Menu

Mode Gelap
Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat di 34 Provinsi Bappenas: Danantara dan MBG Kunci Lepas dari Middle Income Trap Danantara Proyeksi Dongkrak PDB 3 Persen di Awal Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional

UPDATE NEWS

Keren.., Startup Asal Indonesia Ini Menjadi Panelis di Forum PBB!

badge-check


					Keren.., Startup Asal Indonesia Ini Menjadi Panelis di Forum PBB! Perbesar

INAnews.co.id, Jakarta – Forum STI tahunan keenam telah diadakan dari 4 hingga 5 Mei 2021 lalu secara daring. Forum ini diselenggarakan oleh Presiden ECOSOC yang telah menunjuk dua ketua bersama, Bapak Andrejs Pildegovičs, Duta Besar dan Wakil Tetap Latvia untuk PBB, dan Duta Besar Mohammad Koba, selaku Charge d’Affaires dari Indonesia Mission untuk PBB. Sesuai mandatnya, forum ini diselenggarakan oleh Interagency Task Team on STI for SDGs (IATT) dari PBB beserta UN-DESA, UNCTAD, dan juga 10 Anggota Grup perwakilan tingkat tinggi yang ditunjuk oleh Sekretaris Jenderal.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tema Forum STI akan selaras dengan High-Level Political Forum on Sustainable Development (HLPF), yang akan diadakan pada 6-15 Juli 2021, tetapi dengan fokus pada peran dan kontribusi ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi. Oleh karena itu, tema Forum STI 2021 ini adalah: “Science, technology and innovation for a sustainable and resilient COVID-19 recovery, and effective pathways of inclusive action towards the Sustainable Development Goals”.

“Forum STI di sini unik karena mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Hanya di sini, begitu banyak regulator, pembuat kebijakan, dan pebisnis yang bergaul dengan inovator, akademisi, dan aktivis. Semua pemain ini memiliki kekuatan untuk membawa inovasi ilmiah ke skala dan memajukan pembangunan berkelanjutan, “kata Mohammad Koba, selaku Charge d’Affaires dari Indonesia Mission untuk PBB.

Hadir dalam forum tersebut perwakilan dari startup Indonesia, Utari Octavianty selaku founder dan Chief Corporate Officer dari Aruna. Sebagai sosok yang lahir dan besar di daerah pesisir di Balikpapan, Utari menyampaikan bahwa infrastruktur dan juga eksposur teknologi menjadi hal yang krusial dalam membangun bisnis yang berkelanjutan dan tahan banting.

Dalam acara yang diselenggarakan secara daring tersebut Utari Octavianty  menyampaikan “Memperhatikan aspek people dan planet dalam bisnis sangat penting untuk menjadikan suatu bisnis berkelanjutan yang dapat survive dalam berbagai situasi, untuk itu kami membangun sistem yang mengintegrasikan karyawan Aruna dengan para penduduk lokal dengan berbagai keahlian. Di Aruna Site, ada tim yang bernama Local Heroes, yaitu pemuda daerah dengan kapabilitas teknologi yang bekerja sama dengan para nelayan dan juga ibu-ibu pemroses hasil tangkap.”

“Pandemi dengan jelas menunjukkan bahwa orang perlu dilengkapi dengan keterampilan yang membantu mereka menavigasi lingkungan informasi yang kompleks saat ini dan membuat keputusan yang tepat,” ujar Andrejs Pildegovičs, Duta Besar dan Wakil Tetap Latvia untuk PBB.

Forum ini juga mengundang para panelis dari negara lain, hadir pula Gillian Marcelle, dari Resilience Capital Ventures, Anna Andersone dari Riga Tech Girls dan Maxine Fassberg, dari Intel Corporation.

Aruna adalah startup perikanan asal Indonesia yang menghubungkan nelayan kecil ke pasar global dengan teknologi. Ini adalah kali kedua Aruna menjadi studi kasus di forum PBB, setelah sebelumnya dibahas pada tahun 2020 lalu. Sampai saat ini, telah ada 20,000 nelayan yang bergabung dengan Aruna di 13 provinsi di seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat di 34 Provinsi

12 Januari 2026 - 15:43 WIB

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

9 Januari 2026 - 08:39 WIB

Populer NASIONAL