INAnews.co.id, Jakarta – Rencana Pemerintah menaikkan tarif ojek online (ojol) diprediksi akan banyak memiliki dampak negatif ketimbang positif.
Hal ini menuai berbagai macam tanggapan dan reaksi dari para penggunanya. Ketua Tim Peneliti Rised Rumayya Batubara mengatakan 7 dari 10 konsumen akan menolak ada kenaikan tarif.
“Permintaan konsumen akan turun dengan drastis sehingga menurunkan pendapatan pengemudi ojol, bahkan meningkatkan frekuensi masyarakat menggunakan kendaraan pribadi dalam beraktivitas sehari-hari sehingga dapat menambah kemacetan,” ujar Rummaya.
Hal itu diungkap berdasar hasil survei konsumen ojol yang dilakukan oleh Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) dengan melibatkan sebanyak 2.001 konsumen pengguna ojol di 10 provinsi.
Survei ini dilakukan untuk menjawab dampak dari berbagai kemungkinan kebijakan terkait ojol dan respon konsumen terhadapnya.
Rumaya mengatakan, konsumen sangat sensitif terhadap segala kemungkinan peningkatan tarif. Hal ini terlihat dalam hasil survei.
“Kenaikan tarif ojek online berpotensi menurunkan permintaan konsumen hingga 71,12%,” kata Rumayya pada acara peluncuran hasil survei yang diselenggarakan di Jakarta Pusat, Senin (11/2/2019).
Hasil survei juga menyebutkan 45,83% responden menyatakan tarif ojol yang ada saat ini sudah sesuai.
Dari 28% responden lainnya mengaku bahwa tarif ojol saat ini sudah mahal dan sangat mahal.
Jika memang ada kenaikan, sebanyak 48,13% responden hanya mau mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp 5.000/hari.
“Bahkan ada juga sebanyak 23% responden yang tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan sama sekali” ujar Rummaya.
Dari hasil survei yang dilakukan RISED diketahui bahwa jarak tempuh rata-rata konsumen adalah 8,8 km/hari.
“Dengan jarak tempuh sejauh itu, apabila terjadi kenaikan tarif dari Rp 2.200/km menjadi Rp 3.100/km (atau sebesar Rp 900/km), maka pengeluaran konsumen akan bertambah sebesar Rp 7.920/hari,” jelas Rumayya.
Bertambahnya pengeluaran sebesar itu akan ditolak oleh kelompok konsumen yang tidak mau mengeluarkan biaya tambahan .
Konsumen yang ingin mengeluarkan biaya tambahan hanya kurang dari Rp 5.000/hari. Total persentase dari hal itu mencapai 71,12%.
Peluncuran hasil survei ini juga dihadiri oleh Mantan Ketua YLKI & Mantan Komisioner Komnas HAM Zumrotin K. Susilo dan Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal sebagai narasumber sekaligus penanggap hasil riset.
Research Institute for Socio-Economic Development (RISED) merupakan organisasi penelitian independen, memiliki misi untuk mendorong pengembangan pengetahuan dan inovasi di bidang sosial-ekonomi & menyebarluaskan kepada masyarakat.






