Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

SOSDIKBUD

Revoluta Syafri, Eko Banding dan Karya Indah Gelar Parade Pameran Tunggal

badge-check


					Revoluta Syafri, Eko Banding dan Karya Indah Gelar Parade Pameran Tunggal Perbesar

INAnews.co.id, Jakarta – Sebanyak 51 perupa mengikuti parade pameran tunggal yang digelar secara serentak sejak hari ini hingga 2 Februari 2022.

Parade pameran tunggal yang baru diadakan pertama kalinya ini diadakan di puluhan studio dan art space yang tersebar di wilayah Jabodetabek.

Kegiatan ini diadakan sebagai upaya menghidupkan ekosistem berkesenian di Jakarta, Tangerang, Bogor, Bekasi, Depok dan sekitarnya.

Salah satunya parade pameran tunggal yang dihadirkan yakni di studio artpora di jalan kecubung II , Duren Sawit , Jakarta Timur.

Pada pameran hasil karya perupa dari , Revoluta Syafri , Eko Banding dan Karya Indah, secara resmi dibuka pada sabtu 4 desember 2021.

Pada parade pameran tunggal di studio artpora kali ini Revoluta Syafri menghadirkan karya lukisannya dan dipamerkan dengan tema Bernyata Nyata.

“Bernyata nyata adalah sebuah statement untuk memberikan semangat terutama bagi diri saya sendiri. Dalam menghadap setiap persoalan kesenirupaan. Lebih mempertimbangkan realitas yang ada, agar tetap bisa bergerak untuk mewujukan keinginan yang (mungkin) pasti bisa dilakukan,” tulis Revoluta dalam konsep karya lukisnya.

Lanjutnya, disini dalam setiap kerja penciptaan saya selalu berangkat dari apa adanya, dengan semangat menaklukan keadaan dan percaya pada batas kemampuan diri, bernyata-nyata bagi saya hampir seperti konsep dalam berkarya.

Tanpa bermaksud mengesampingkan hal-hal teknis dan konsep pemikiran yang mendasari setiap karya yang saya kerjakan. Dalam artian saya lebih mendahulukan gerakan dalam bersenirupa dari pada wacana.

Hasil karya Revoluta Syafri yang dipamerkan di studio artpora , Jakarta (foto : Inanews)

 

“Seperti dalam parade pameran tunggal ini, saya tidak lagi disibukan untuk menyiapkan karya lukis. Tetapi saya lebih menyikapi momen pameran ini sebagai peristiwa. Karena itu saya berusaha untuk memberikan karya terbaik yang saya bangun dari sebuah situasi yang saya hadapi. Saya harus memutar otak untuk mensiasati ruang pamer yang ingin saya hadirkan. Ini menjadi gairah tersendiri bagi saya dalam menyiapkan beberapa konsep karya yang saya sesuaikan untuk mensiasati ruang yang ada, agar dapat tersaji secara maksimal dan layak dipamerkan,” lanjutnya.

Eko Banding dalam RESITAL GARIS

Seruang pamer, perupa Eko Banding mengambil tema Resital Garis dalam menuangkan pemikiran seninya lewat lukisan yang Ia tampilkan dalam parade pameran tunggal di studio artpora.

“Bagi saya melukis merupakan peristiwa stigmatif. Bagaimana menuangkan abstraksi imajener melalui bahasa rupa dengan penuh kesungguhan keatas kanvas. Dalam Restal Garis saya berusaha bagaimana menyadari dan memastikan sebuah lompatan peristiwa golden-momen yang terjadi dalam semesta,” ucap Eko Banding.

Lukisan hasil karya Eko Banding yang dipamerkan di studio artpora, Jakarta ( foto : INAnews)

 

Lanjutnya, momen terbaik yang terjadi karena lintasan bahasa rupa dalam proses eksekusi, dengan segala elemennya. Visual yang tertangkap Indra dan memprovokasi rasa keindahan yang terbangun melalui suasana dramatisnya.

“Untuk kesana saya patuh tanpa syarat pada kehendak alam. Percaya penuh pada bahasa rupa yang terhantarkan lewat stigma-stigma yang tervisual. Bahwa mereka memiliki keinginannya sendiri. Irama, komposisi, ruang dan suasana. Saya hanya perlu melekatkan pada premis sebagai canal lahirnya. Menjadi dasar pemikiran yang saya inginkan dari kerja yang saya lakukan. Untuk menjaga kemelekatannya, tak jarang saya menambahkan kata, bahkan kalimat,” jelasnya.

Lanjutnya jika lukisanya seperti menceritakan kembali peristiwa di dalam mimpi, ia hadir melalui stigma-stigma yakni garis, warna, ruang-waktu dan suasana semua menjadi ter-elaborasi secara harmonis antara teknik, pemikiran dan jaman. Berkelindan menyajikan bentuk-bentuk dan peristiwa-peristiwa yang diinginkannya sendiri. Menawarkan kejutan-aestetis, etik, bahkan religi, katarsis dalam ejawantahnya.

“Dalam Resital Garis. Saya membayangkan Garis garis yang tertampak memberikan musiknya dengan bidang kanvas sebagai stage. Menampilkan bentuk, komposisi ruang dan warna yang tak terbatas, menjadi harmoni yang menawarkan unikumnya untuk di dekati secara personal,” ungkap Eko Banding.

Garis tidak melulu merepresentasikan keinginan tapi merupakan jawaban dari pertanyaan dan mempertanyakan segalanya tentang kabar dan cerita yang dibawanya.

“Saya hanya perlu peka, melihat dan mendengar apa yang diinginkannya, membangun Imajenasi, untuk mewujudkan kenyataan imajener yang ditawarkan,” ucap Eko Banding.

Seni Instalasi Karya Indah

Ada yang unik dan artistik ketika melihat parade pameran tunggal di studio artpora. Para penikmat seni akan disuguhi seni instalasi hasil perupa dari Karya Indah.

Seni instalasi hasil dari perupa Karya Indah yang dipamerkan di studio artpora di Jakarta ( foto: Inanews)

 

Mengambil sebuah tema “Time Bomb” , perupa Karya Indah membuat seni tentang keprihatinan manusia untuk bergerak bebas di tengah sebuah pandemik.

Untaian belasan cetakan sepatu dijulurkan dengan sebuah benang mengelilingi kumpulan koleksi perangko dari berbagai negara dan juga patung Kepala manusia dengan memakai masker gas acid.

Menurutnya seni instalasi yang dihadirkannya ini sebagai peristiwa yang terjadi saat ini ditengah pandemik dan keterbatasan manusia untuk bergerak tapi dihantui rasa ketakutan akan sebuah virus.

Karya Indah juga menambahkan suara musik , bunyi langkah manusia, bunyi detak jantung dan desakan nafas manusia. Serasa memiliki estetik seni ketika penikmat seni melihat hasil karyanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Kompetisi Bukan Jalan Kepemimpinan Perempuan

7 Januari 2026 - 09:25 WIB

Dari Gereja Sentani, Zita Anjani Sampaikan Pesan Kasih untuk Indonesia

5 Januari 2026 - 08:31 WIB

Dari Gereja Sentani, Zita Anjani Sampaikan Pesan Kasih untuk Indonesia

Mengenal Situs Tadulako: Menbud Susuri Sejarah Megalitik Lore Lindu

31 Desember 2025 - 13:22 WIB

Populer BUDAYA