INAnews.co.id, Jakarta – Peredaran Hoaks menjelang pelaksanaan Pemilu 2019 sebaran berita Hoaks sngat mengkhawatirkan. Menurut Staf Ahli Sekjen Kominfo, DR.Hendrasmo, jika kondisi tersebut membahayakan Demokrasi.
“Bahwa hoaks kita sedang berada dalam taraf mengkhawatirkan. Sebab, Hoaks semakin meningkat. Sangat bahayakan demokrasi.” Ujarnya dalam diskusi bertema “Peran Media Massa Dalam Pendidikan Pokitik Guna melawan Hoaks Dan Menekan Angka Golput Dalam Pemilu 2019” yang di gelar oleh Pustaka Institute di Tjikini Lima Resto and Caffe, Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (22/3/19).
Kominfo sendiri, pada awal Maret lalu mencatat bahwa kuantitas hoaks sejak Agustus-Februari 2019, jumlahnya mencapai 771 hoaks.
“Ada 3-4 hoaks tiap harinya. Awal Maret lalu hoaks di bulan Februari kita kumpulkan ada kurang lebih 350. Setidaknya tiap hari ada 10 hoaks. Hoaks belasan hari ada 220 hoaks. Tiap hari kita jaring dan garab dari AI Kominfo.” Jelasnya lagi.
Menurut Hendrasmo, Hoaks paling banyak menyerang pemerintah, capres, cawapres serta kementerian. Sementara itu issue besar yang disampaikan dalam Hoaks adalah masalah Politik dan SARA (Suku. Agama, Ras, Antar Golongan)
Masih menurutnya, masyarakat memang sudah terlalu sering mendapatkan hoaks dalam setiap harinya
“Sejumlah 44,1% masyarakat kita menerima hoaks tiap harinya dan saya yakin sekarang sudah semakin meningkat.” Imbuhnya.
Hendrasmo menyebutkan, ternyata mayoritas hoaks susah diidentifikasi mana benar mana hoaks. Kira-kira 75,25% katakan tidak yakin identifikasi hoaks. 24% saja yang bisa identifkasi hoaks,” Juga.
Dalam kesempatan yang sama, Biro Hukum KPU RI, Setya Indra Arifin mengatakan, banyak Non Voting Behavior (kalangan golput). Karena itu KPU akan terus melakukan pendidikan politik bagi pemilih.
Menurutnya, banyak produsen penyebar hoaks, namun itu bagian dari ciri keterlibatan aktif masyarakat terhadap pemilu. Tapi yang diharapkan keterlibatan pemilih sejalan dengan hari H ada partisipasi aktif.
“Hoaks ini mendelegitimasi dalam tingkat paling parah dalam proses penyelenggaraan pemilu.” katanya.
Oleh karena itu, Setya merasa tidak yakin, pemberantasan akun-akun penyebar hoaks bisa dilakukan. Tidak hanya itu, Pengamat Intelijen CISS, Ngasiman Djoyonegoro menjelaskan bahwa Komponen utama yang harus diwaspadai sebagai ancaman pemilu antara lain, hoaks, fake news dan hate speech
“Pasca Pemilu 2014 hoaks itu selalu muncul. Ketika isu hoaks dikaitkan sistem politik itu akan jadi kebisingan sistem politik sekarang ini.” tukasnya
Masih menurutnya, adapun hal yang bisa dilakukan oleh pihaknya adalah dengan melakukan psywar.
“Satu sama lain itu ilmunya sama dan mereka saling hantam. Apalagi sekarang peserta kontestannya ada 2 maka substansinya tidak terlihat dan hanya sentimen verbal saja yang muncul termasuk sentimen SARA, siapa yang islam dan siapa yang kafir.” tutupnya.






