INAnews.co.id,Jakarta– Selama ini kita selalu membanggakan bahwa kita negara pancasila, tapi dengan kejadian yang memprihatinkan, kita perlu kembali menggali apa makna Pancasila.
Wahana Indonesia NKRI (WIN) mengadakan diskusi dengan tema, Menuju Manusia Indonesia Berkarakter Pancasila, yang di adakan di Jakarta pada, selasa, 28 Februari 2023.
Menurut Ketua Umum WIN Silvana Da Costa, acara ini diadakan karena anak bangsa sering terjadi pertikaian, ujaran kebencian, bahkan kekerasan.
Hal ini terjadi karena adanya degradasi moral pada anak bangsa, apalagi menjelang pilpres.
“Teman saja saling berkelahi karena fanatisme paslonnya masing-masing,” ucap Silvina.
Turut hadir berbagai pembicara diantaranya yakni, Totty Moekardiono, Prof. Elwin Tobing, Prof. John Pieris, Immanuel Ebenhaezer, Rudi S. Kamri, Bambang Adi, Gus Sholeh, dan Ugan Gandar.
“Kita itu masih sama anak bangsa oleh karena itu, saat ini WIN berkumpul bersama dengan semua elemen, ada relawan prabowo, ada mantan relawan jokowi,” ujarnya.
Lebih lanjut Silvana mengatakan, WIN saat ini bersatu dengan semua elemen, sesama anak bangsa menyikapi pilpres 2024 untuk bersatu dengan payung Pancasila.
Menyikapi kebebasan saat ini, menurut Silvina semua unsur dari semua lini harus saling bahu membahu, tidak bisa hanya Pemerintah saja.
“Kita semua harus membantu perubahan karakter, moral bangsa menjadi tanggung jawab kita bersama. Bisa dari sekolah, dari keluarga, orang tua dan lingkungan, dan ini yang dapat membentuk karakter dari pada anak- anak sejak dini sampai dewasa,” jelasnya.
Lanjutnya, pembinaan karakter ini harus ada kontinuitas, harus ad integrasi, dan harus terkoneksi satu kesatuan.
“Tidak apa- apa berbeda tapi payungnya satu Pancasila. Kita kembali lagi ke falsafah bangsa ini. Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa, kalau kita seragam dengan falsafah bangsa maka kita akan terintegrasi, kita saling membutuhkan, kita saling satu keluarga,” jelasnya.
Saat ini menurut Silvina, degradasi moral dari anak bangsa sangat memprihatinkan, apalagi dengan adanya media sosial.
“Saat ini kita lihat kekerasan, pemerkosaan, dan lainnya. Padahal Presiden kita Jokowi mencanangkan revolusi mental. Dengan adanya kejadian dewasa ini, kita harus kembali lagi ke akarnya yaitu pandangan hidup kita, dan itulah hakekat manusia yang berkarakter pancasila,” lanjut Ketum WIN.
WIN juga menyarankan perlu menambahkan kurikulum Pancasila, bukan hanya di tingkat pendidikan dini, tapi berkesinambungan dan terintegrasi.
“Pancasila harus di lihat secara holistik, secara keseluruhan menjadi kekuatan bangsa kita ini,” ungkapnya.






