INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Dewan Syuro Partai Ummat, Prof. Amien Rais, melontarkan kritik pedas terhadap mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sebuah pertemuan dengan para purnawirawan TNI. Dalam pidatonya, Amien menuding Jokowi telah mengubah sistem demokrasi Indonesia menjadi “otoritarianisme terselubung” dan membangun dinasti politik melalui praktik nepotisme.
Demokrasi Hanya Formalitas, Otoriter dalam Substansi
Amien menyatakan bahwa meskipun Indonesia memiliki struktur demokrasi—seperti pemilu, DPR, dan DPD—namun pada praktiknya, kekuasaan terpusat pada satu orang. “Presiden berjanji memperjuangkan rakyat, tapi begitu masuk istana, berubah menjadi otokrat. Belum sampai diktator, tapi sudah mengarah ke sana,” tegasnya.
Ia mencontohkan gaya kepemimpinan Jokowi yang dinilai “seperti raja Jawa gadungan”, terutama saat pernikahan putrinya di Medan. “Dia meminta Keraton Solo mengirim tujuh kereta kencana beserta kuda dan abdi dalem ke Medan. Ini bukan gaya presiden republik, tapi raja yang tidak paham etika,”sindir Amien.
Jokowi Dituding Sebagai “Penipu Profesional”
Amien secara tegas menyebut Jokowi sebagai “pathological and professional liar”(pembohong patologis dan profesional). “Kalau seminggu tidak bohong, badannya meriang,” ujarnya. Ia juga mempertanyakan bagaimana figur yang awalnya hanya dikenal sebagai “tukang kayu” bisa melesat menjadi presiden dua periode, sambil menyiratkan adanya “kekuatan luar biasa” di belakangnya.
Gerakan Nasional untuk Perubahan Konstitusi
Amien mengusulkan pembentukan Majelis Rakyat Indonesia (MRI) untuk merumuskan skala prioritas perbaikan bangsa.
“Kita perlu merevisi UUD 1945. Konstitusi bukan Al-Quran, ia bisa diamandemen demi keadilan,” tegasnya.
Ia mendorong gerakan bersama melibatkan mahasiswa, pemuda, dan partai politik yang masih berpegang pada Pancasila. “Kita butuh national movement, bahkan national explosion jika perlu. Rakyat sudah muak dengan ketidakadilan,”serunya.
Indonesia Kaya, Rakyat Miskin
Amien menyoroti paradoks Indonesia: “Negara ini punya segalanya—tambang, hutan, laut—tapi rakyat tidak kebagian apa-apa karena dikuras untuk kepentingan asing dan elite.” Ia juga mengkritik kebijakan ekonomi yang dianggap mengusir investor. “Mereka lebih memilih Vietnam, Thailand, atau Malaysia karena kebijakan kita tidak jelas,” ujarnya.
Seruan Perlawanan dan Optimisme
Di akhir pidato, Amien mengutip nasihat almarhum Kiai Ali Yafie: “Nabi Muhammad saja dihujat, apalagi kita.” Ia menegaskan bahwa perjuangan menegakkan keadilan harus terus dilanjutkan, meski membutuhkan waktu.
“Jokowi harus diadili! Ayo, kita bergerak!”tandasnya, diiringi sorakan hadirin.






