INAnews.co.id, Jakarta– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Selasa (3/6/2025), menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Setelah sempat dibuka melemah di awal perdagangan, IHSG mampu rebound tipis dan bergerak dalam rentang yang ketat, mencerminkan sentimen pasar yang masih penuh kehati-hatian.
Menurut data yang dihimpun dari berbagai sumber terpercaya, IHSG pada pembukaan perdagangan pagi ini sempat melemah 28,94 poin atau dibuka di level sekitar 7.071,63. Namun, seiring berjalannya sesi perdagangan, IHSG berhasil menguat tipis sebesar 7,92 poin (0,11%) ke level 7.072,9, setelah sempat jatuh pada awal perdagangan. IHSG hari ini bergerak di rentang 6.994 – 7.090.
Meskipun pergerakan indeks secara keseluruhan cenderung sideways atau bervariasi, beberapa saham menunjukkan kenaikan yang signifikan. Data menunjukkan, terdapat 195 saham yang menguat, sementara 453 saham melemah, dan 161 saham stagnan.
Pergerakan IHSG pada hari ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari domestik maupun global. Sebelumnya, IHSG pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (2/6/2025), ditutup melemah 1,54% ke posisi 7.065,06. Penurunan kemarin dipicu oleh aksi profit taking dan sentimen negatif dari bursa kawasan Asia yang mayoritas terkoreksi.
Analis pasar memprediksi bahwa IHSG hari ini akan cenderung mendatar, dipengaruhi oleh sentimen domestik seperti rilis data deflasi Indonesia serta gelontoran lima paket stimulus pemerintah. Di sisi lain, isu-isu global dan tekanan jual investor asing yang tercatat net sell Rp2,8 triliun pada perdagangan sebelumnya, terutama di saham-saham bank jumbo, turut menjadi penekan pergerakan indeks.
Meskipun IHSG menunjukkan sinyal tren bearish pada perdagangan kemarin, beberapa analis tetap merekomendasikan saham-saham potensial yang menarik dicermati untuk potensi rebound. Di antaranya adalah saham-saham dari sektor energi dan industri dasar yang pada pembukaan sempat menopang penguatan tipis IHSG.
Para investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan sentimen pasar, baik domestik maupun global, serta kinerja emiten secara fundamental sebelum mengambil keputusan investasi.*






