Menu

Mode Gelap
Indonesia Raih Swasembada Beras dengan Produksi Tertinggi Sepanjang Sejarah Peringati HBI ke 76, Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Buka Pelayanan Pada Hari Sabtu Pengamat: Wacana Pemilihan Kada oleh DPRD Hampir Dipastikan Terealisasi Umat Islam Harus Terus Bermikraj dalam Ilmu dan Kompetensi Pakar Ekonomi Syariah Ungkap Hikmah Isra Miraj Kemajuan Umat Islam Pasal Nikah dan Poligami dalam KUHP Bertentangan Konstitusi

NASIONAL

Iduladha di JIC: Harapan Penceramah dan Refleksi Ibadah Kurban

badge-check


					Foto: jemaah salat Iduladha 1446 H di Masjid Raya JIC, Jakarta Utara, dok. ist Perbesar

Foto: jemaah salat Iduladha 1446 H di Masjid Raya JIC, Jakarta Utara, dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Ribuan umat Muslim di Jakarta Islamic Centre (JIC) menyambut Hari Raya Iduladha 1446 H dengan mengikuti salat berjemaah. Salat Iduladha kali ini menghadirkan Prof. Husnan Bey Fananie sebagai khatib.

Kepala Divisi Takmir Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC), KH Ibnu Abidin dalam sambutannya, mengungkapkan harapan kepada Prof. Husnan, cucu salah satu pendiri Pesantren Gontor, Ponorogo lewat ceramahnya di hari Iduladha.

Dalam pernyataannya, KH Ibnu Abidin mengajak umat Muslim untuk merenungi dua hal penting dalam perayaan Iduladha. Pertama, mengenai perjalanan menuju tempat ibadah, khususnya prosesi ibadah haji.

Ia menekankan bahwa esensinya adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menghadiri tempat-tempat ibadah. “Ini yang perlu kita sadari,” ujarnya.

Foto: Kepala Divisi Takmir Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC), KH Ibnu Abidin, dok. ist

Kedua, adalah makna dari hari raya kurban itu sendiri. “Mendekatkan diri kepada Allah dengan cara yang luar biasa lewat jalan hewan yang dikurban seperti sapi, kambing—bukan disembelih, bukan untuk disembah,” jelasnya.

KH Ibnu Abidin juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah berkurban. Tahun ini, JIC menerima 162 hewan kurban, terdiri dari 29 sapi dan 133 kambing. Pemotongan hewan kurban sendiri akan dilaksanakan pada esok hari, Sabtu (7/6/2025), yang dimulai pada pukul 6 pagi.

“Ini satu tanda kita untuk berbahagia di bulan mulia,” ujarnya penuh syukur. “Kami mengucapkan terima kasih kepada umat, terutama yang ikut mensyiarkan Iduladha ini,” ujar KH Ibnu Abidin.

Ia berharap bahwa semua sumbangan hewan kurban ke Masjid Raya JIC akan menjadi sarana bagi para pequrban untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ia juga berharap perayaan Iduladha di JIC dapat berjalan lancar dan penuh keberkahan, memperkuat tali silaturahmi, dan menumbuhkan semangat berbagi di tengah masyarakat.

Khotbah Iduladha oleh Husnan Bey Fananie

Prof. Husnan memberi tema dalam khotbahnya “Meneladani Kisah Keluarga Nabi Ibrahim A.S.”

Berikut isi khotbah Prof. Dr. K.H. Husnan Bey Fananie, M.A:

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahilhamd.

Sejak kemarin sore, gemuruh takbir, tahmid, dan tasbih telah menggetarkan hati setiap jiwa yang beriman dan takut kepada Allah SWT di seluruh penjuru dunia. Seluruh kaum Muslimin, dari anak-anak hingga orang tua, laki-laki maupun perempuan, yang sehat maupun yang sakit, baik sendiri-sendiri maupun berjamaah, baik berdiri, duduk, ataupun berbaring, mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid.

Bahkan bebatuan, tumbuhan, dan seluruh alam raya turut mengumandangkan takbir untuk menghidupkan sunah Rasulullah SAW dengan mengagungkan dan menyucikan asma Allah SWT.

Mengawali khotbah yang singkat ini, marilah kita bertakwa kepada Allah SWT, yaitu dengan menjauhi segala larangan-Nya dan melaksanakan segala perintah-Nya. Hal tersebut kita lakukan karena takwa merupakan nilai esensial dalam berkurban. Allah tidak akan menerima daging atau darah dari hewan kurban, namun yang diterima Allah adalah ketakwaan dari orang yang berkurban.

Bagi generasi muda, takwa dapat dimaknai dengan meningkatkan semangat belajar, meraih prestasi, disiplin, menjadi pribadi yang unggul, rajin shalat lima waktu, serta beribadah kepada Allah SWT. Sebaliknya, menjauhi larangan Allah berarti menjauhi narkoba, menghindari hoaks dan ujaran kebencian, menjauhi radikalisme dan terorisme, serta menjauhi permusuhan demi membangun dan membela NKRI yang bermartabat.

Alhamdulillah, pagi hari ini kita semua berbahagia karena dapat melaksanakan shalat Idul Adha bersama-sama dan merayakannya dengan selamat dan sejahtera. Karena itu, mari kita bersama merenungi makna dan hakikat terdalam dari Idul Adha.

Foto: Prof. Husnan Bey Fananie, dok. ist

Makna Idul Adha: Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim A.S.

Setiap kali momen Idul Adha tiba, kita diingatkan kembali akan kisah agung keluarga Nabi Ibrahim AS, sebuah kisah penuh teladan bagi segenap manusia sepanjang zaman. Kisah ini telah dengan amat indah Allah rekam dalam surat Al-Shaffat [37]: 100-113.

Tahukah bagaimana sejarah Idul Adha atau Idul Kurban ini bermula? Kisah ini bermula saat Nabi Ibrahim belum juga memiliki keturunan setelah bertahun-tahun menikah dengan Siti Sarah. Sarah kemudian mempersilakan suaminya untuk menikah dengan Siti Hajar, yang merupakan pembantu di keluarga Ibrahim.

Dari pernikahannya dengan Hajar, Nabi Ibrahim dikaruniai seorang putra yang kemudian diberi nama Ismail.

Ismail menikmati masa kanak-kanaknya dan sangat disayangi ayahnya. Namun, pada suatu ketika, tepatnya pada malam 8 Zulhijah, Nabi Ibrahim bermimpi didatangi seseorang yang membawa pesan dari Tuhan, berisi perintah untuk menyembelih anaknya. Nabi Ibrahim pun kaget dan muncul keraguan padanya, apakah perintah itu memang dari Tuhan atau tidak.

Pada 8 Zulhijah itu, Nabi Ibrahim merenung mengenai benar atau tidaknya perintah tersebut. Kejadian mimpi ini kemudian diperingati umat Islam dengan mengerjakan puasa sunah Hari Tarwiyah (hari merenung).

Malam berikutnya, Nabi Ibrahim kembali mendapat mimpi yang sama. Pada mimpi yang kedua ini, Nabi Ibrahim semakin yakin bahwa perintah tersebut memang berasal dari Allah SWT. Oleh karena itu, pada tanggal 9 Zulhijah, umat Islam memperingatinya dengan puasa Hari Arafah (hari pengetahuan), yakni hari ketika Nabi Ibrahim mengetahui pesan yang berisi perintah menyembelih anaknya.

Lalu pada tanggal 10 Zulhijah, Nabi Ibrahim membawa Ismail untuk dikurbankan. Ismail pun bersedia dikurbankan karena meyakini bahwa perintah itu datangnya dari Allah SWT. Selama di perjalanan, Nabi Ibrahim dan Hajar dikisahkan diganggu setan yang ingin menggagalkan rencana tersebut. Mereka kemudian melempari setan yang menggoda dengan batu.

Saat penyembelihan tiba, parang yang sudah diasah tajam ternyata menjadi tumpul ketika ditempelkan ke leher Ismail. Nabi Ismail AS berkata, “Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telungkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku.”

Nabi Ibrahim menuruti perkataan putranya tersebut, namun hal itu tidak berguna. Parang itu tetap tumpul dan tak mampu sedikit pun menyakiti Nabi Ismail AS.

Di sinilah terungkap bahwa apa yang diperintahkan Allah SWT tersebut adalah ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sejauh mana cinta dan ketaatan mereka terhadap Allah SWT. Nabi Ibrahim AS telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pengorbanan putranya untuk berbakti melaksanakan perintah Allah, sedangkan Nabi Ismail AS tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam melaksanakan baktinya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan.

Nabi Ibrahim merasa bingung karena gagal melaksanakan tugas yang diembannya. Pada saat itu, turun wahyu Allah dengan firman-Nya:

“Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan besar.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 104-107)

Kemudian, sebagai ganti nyawa Nabi Ismail AS yang telah diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS menyembelih seekor kambing yang telah tersedia di sampingnya. Beliau pun segera memotong leher kambing itu dengan parang yang tumpul di leher putranya tadi.

Keluarga Teladan dan Penerapan Tauhid

Kisah keluarga Ibrahim telah menjadi legenda sejak lebih dari 5.000 tahun silam. Inilah kisah keluarga teladan, keluarga yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap sendi-sendi kehidupan. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah SWT, Rabbul Izzati. Setiap individu dalam keluarga utama ini benar-benar menunjukkan kualitas ultraprima dalam bertauhid secara murni dan luar biasa.

Sebagai generasi Muslim yang memegang tauhid dengan teguh dan istiqomah, kita harus ingat bahwa pada dasarnya tiap anak lahir dengan bersih. Ibu dan bapaknyalah yang akan mewarnai anak-anak itu menjadi “sesuai” di kemudian hari, demikian sabda Rasulullah SAW.

Jika para orang tua memulai dari diri sendiri, baik dalam hal kebaikan dan menghindari keburukan, maka anak-anak akan menemukan teladan. Para pemuda-pemudi kita bisa menduplikasi perilaku mulia dari orang tua, guru, dan para pejabat publik negeri ini.

Alangkah indahnya hidup ini dan damainya Indonesia jika tiap keluarga hanya menularkan kebaikan dalam perilaku sehari-harinya. Tidak ada lagi perkelahian antarpelajar, tidak ada lagi tawuran antarkampung, tidak ada lagi korupsi yang menyengsarakan rakyat. Sungguh, Indonesia akan menjadi:

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُوْرٌ

“Sebuah negara yang baik dan berada di bawah perlindungan Allah yang Maha Pengampun.” Insya Allah. Aamiin Yaa Rabbal’alamiin.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahilhamd.

Hikmah Kurban: Peduli Sosial dan Mendekatkan Diri kepada Allah

Dalam konteks hari raya Idul Adha, kita diperintahkan Allah untuk meneladani Nabi Ibrahim AS, yang bahkan rela mengorbankan putranya yang saleh demi menjalankan perintah Allah SWT. Kita tidak diperintahkan menyembelih putra kita, namun kita hanya diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, kita juga diperintahkan Allah untuk menjadi seorang yang peduli sosial, membantu sesama yang membutuhkan.

Oleh karenanya, setiap tahun pada tanggal 10 Dzulhijjah, seorang Muslim dianjurkan untuk berkurban, mengorbankan sedikit kekayaannya guna membuktikan cinta kepada Allah SWT. Bukti cinta itu harus kita berikan dengan seksama, dengan hati yang tulus, semata-mata karena-Nya. Demikian pentingnya berkurban hingga Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana terdapat dalam kitab Durratun Nasihin:

“Sebaik-baik umatku adalah mereka yang berkurban, dan sejelek-jelek umatku adalah mereka yang tidak mau berkurban.”

Dalam hadis Rasulullah SAW yang terkenal:

و عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحَّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa yang memiliki kelonggaran (rezeki) dan tidak berkurban, maka janganlah mendekati masjidku.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahilhamd.

Sebagaimana keterangan Sayyidina Ali Karramallahu Wajahah:

Barangsiapa hendak berkurban, maka setiap langkah menuju tempat pembelian kurban akan diimbali dengan sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh kesalahan, dan diangkat derajatnya sepuluh tingkatan. Dan ketika berbicara tawar-menawar maka omongannya dianggap sebagai tasbih. Dan ketika membayar, setiap satu dirham (satu rupiah) imbalannya sama dengan tujuh ratus kebaikan. Dan beberapa saat ketika hewan itu telah dirobohkan hendak disembelih, semua makhluk yang berada di tempat penyembelihan hingga langit ketujuh memintakan pengampunan untuknya. Dan ketika darah telah mengalir dari hewan kurban, setiap tetesnya akan menjelma sepuluh malaikat yang memohonkan ampunan kepadanya hingga hari akhir. Dan ketika daging itu dibagi-bagikan, maka setiap satu suap daging yang dimakan orang, setimpal dengan memerdekakan satu budak dari keturunan Nabi Ismail.”

Kurban dalam Al-Qur’an dan Implikasinya

Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan umatnya untuk menunaikan shalat sebagai bentuk ibadah dan menyembelih kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah. Kata wanhar (berkurbanlah) adalah isyarat bahwa penyembelihan bukan hanya tindakan fisik, tetapi ibadah yang memperkuat tauhid dan mendekatkan diri kepada Allah.

Allah juga berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (QS. Al-Hajj [22]: 34)

Ibadah kurban adalah syariat yang tidak hanya berlaku untuk umat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga untuk umat-umat terdahulu. Ini menandakan bahwa ibadah kurban adalah salah satu ekspresi universal dari pengakuan manusia terhadap rezeki Allah dan ajaran tauhid yang murni.

Lalu dalam ayat 37 Surah Al-Hajj, Allah menegaskan:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj [22]: 37)

Allah tidak membutuhkan daging ataupun darah. Yang Allah inginkan adalah ketakwaan, keikhlasan, dan kerendahan hati dari orang-orang yang berkurban. Maka, kurban bukanlah sekadar ritual, melainkan refleksi dari kedalaman iman seseorang.

Kurban sebagai Manifestasi Nilai dan Penjaga Peradaban Islam

Ma’asyiral Muslimin, dari ayat-ayat tersebut kita bisa melihat bahwa ibadah kurban adalah manifestasi dari nilai-nilai utama dalam Islam, yakni:

– Ketundukan total kepada Allah (sebagaimana Nabi Ibrahim dan Ismail).

– Syukur atas rezeki yang diberikan Allah.

– Penguatan tauhid dan spiritualitas pribadi.

Maka dari itu, berkurban berarti mempertahankan peradaban Islam. Karena peradaban Islam tidak berdiri di atas kekuatan material semata, tetapi di atas nilai-nilai luhur seperti ketakwaan, pengorbanan, dan keadilan sosial.

Kini, mari kita renungkan dimensi sosial dan peradabannya. Mengapa Kurban adalah Bentuk Mempertahankan Peradaban Islam?

Menjaga Nilai Ketauhidan Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail adalah teladan abadi tentang bagaimana tauhid dan ketaatan kepada Allah menjadi fondasi peradaban umat. Kurban adalah pengingat tahunan akan nilai ini.

Memperkuat Ukhuwah dan Solidaritas Sosial Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan tetangga.

Hal ini mempererat hubungan sosial dan menghapuskan kesenjangan, dua hal penting dalam membangun masyarakat yang adil dan makmur.

Menumbuhkan Spirit Pengorbanan dan Kepedulian Tidak ada peradaban besar yang lahir dari egoisme. Kurban mengajarkan kita untuk rela berbagi, mendahulukan kepentingan umat, dan merelakan sebagian milik kita demi kebaikan bersama.

Melestarikan Tradisi dan Syiar Islam Kurban adalah bagian dari syiar Islam sejak zaman Nabi Ibrahim hingga hari ini. Melaksanakan kurban adalah bentuk nyata menjaga warisan Islam tetap hidup dan relevan.

Ma’asyiral Muslimin. Mari jadikan momen Idul Adha tahun ini sebagai penguatan spiritual dan sosial, untuk terus menjaga peradaban Islam yang berakar pada ketakwaan, keadilan, dan kasih sayang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Indonesia Raih Swasembada Beras dengan Produksi Tertinggi Sepanjang Sejarah

13 Januari 2026 - 05:59 WIB

Peringati HBI ke 76, Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Buka Pelayanan Pada Hari Sabtu

12 Januari 2026 - 21:59 WIB

Umat Islam Harus Terus Bermikraj dalam Ilmu dan Kompetensi

12 Januari 2026 - 20:42 WIB

Populer PENDIDIKAN