INAnews.co.id, Jakarta– Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menyatakan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang kembali memanas merupakan hal yang tidak mengejutkan dan sudah dapat diprediksi. Ia juga memperingatkan bahwa gelombang perang dagang 2.0 ini akan lebih dahsyat dan berpotensi berdampak signifikan pada perekonomian Indonesia.
Dalam pernyataannya di kanal YouTube Mardani Ali Sera pada Rabu (18/6/2025), Esther menjelaskan bahwa rekam jejak proteksionisme mantan Presiden AS Donald Trump pada 2019 sudah menjadi indikator kuat. “Trump pada tahun 2019 juga sudah punya history dengan Cina itu ada perang dagang gitu ya, track record-nya ada,” ujarnya.
Esther menambahkan bahwa saat kampanye kepresidenan, arah kebijakan Trump tidak menunjukkan perubahan, tetap bersifat proteksionis. Bahkan, saat pelantikan pada 20 Januari, Trump sudah mengumumkan sanksi atau tindakan terhadap negara-negara yang menyebabkan defisit perdagangan bagi AS.
Esther mengingatkan bahwa dampak perang dagang 1.0 pada 2019 juga dirasakan oleh ekonomi Indonesia, mengingat AS adalah salah satu destinasi ekspor utama Indonesia. Namun, pada saat itu Indonesia masih relatif aman karena Tiongkok menjadi sasaran utama.
“Perang dagang 2.0 ini lebih dahsyat lagi. Semua negara [akan terdampak], apalagi Indonesia juga termasuk anggota BRICS, jadi menjadi sasaran,” kata Esther.
Menghadapi potensi dampak ini, Esther menyarankan Indonesia untuk belajar dari Vietnam. Pada perang dagang 1.0 tahun 2019, Vietnam menjadi negara yang paling diuntungkan dan keluar sebagai pemenang.
Ada dua alasan utama mengapa Vietnam berhasil meraih keuntungan
Re-ekspor Produk Tiongkok: Ketika Tiongkok tidak dapat mengekspor produknya langsung ke AS, produk-produk tersebut dilempar ke Vietnam, dilabeli ulang sebagai produk Vietnam, kemudian masuk ke pasar AS.
Relokasi Pabrik AS: Sebagian besar pabrik-pabrik AS yang direlokasi dari Tiongkok beralih ke Vietnam, bukan ke Indonesia.
“Makanya kita harus antisipasi,” pungkas Esther, menekankan pentingnya strategi yang tepat agar Indonesia dapat memanfaatkan situasi perang dagang ini, alih-alih menjadi korban.






