INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Imin), mengumumkan rencana penyelenggaraan International Conference on Transformation of Pesantren (ICTP). Konferensi ini bertujuan mengevaluasi dan mentransformasi sistem pendidikan pesantren agar relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus memperkuat perannya dalam memutus mata rantai kemiskinan.
Pesantren sebagai Lembaga Unggulan
Gus Imin menegaskan bahwa pesantren memiliki tiga keunggulan utama:
1. Penanaman nilai agama yang kuat.
2. Motivasi menuntut ilmu secara mendalam, baik ilmu agama maupun umum.
3. Kemampuan bertahan dalam keterbatasan, sekaligus menjadi solusi pendidikan bagi masyarakat ekonomi lemah.
“Dari sekitar 39.000 pesantren di Indonesia, hampir 50% memberikan pendidikan gratis. Ini bukti pesantren berperan besar dalam memutus siklus kemiskinan,” ujarnya lewat akun YouTube PKB, Jumat (20/6/2025)
Transformasi untuk Hadapi Tantangan Global
Menghadapi pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, Gus Imin menekankan pentingnya revolusi sistem pesantren, mulai dari kurikulum, metodologi, hingga pendekatan pembelajaran.
“Pesantren harus beradaptasi dengan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) dan kebutuhan industri, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman,” tegasnya.
Rangkaian Kegiatan ICTP
Konferensi akan digelar selama 3 hari di Jakarta, dihadiri 300 perwakilan pesantren terkemuka se-Indonesia dan sejumlah pakar internasional. Beberapa agenda utama meliputi:
– Keynote speech dari Menteri Agama dan Menteri Pendidikan.
– Simposium dengan pembicara seperti Prof. K.H. Said Aqil Siraj, Prof. Stella Kristi (Wamen Pendidikan), serta akademisi dari Turki, Mesir, dan Finlandia.
– Kunjungan ke Huawei, SMK Mitra Industri Cikarang, dan Buddha Suci Pandaan sebagai studi banding.
– Fokus Group Discussion (FGD) membahas kurikulum, ekonomi pesantren, dan link-and-match dengan industri.
Link-and-Match dengan Dunia Kerja
PKB menggandeng pelaku industri seperti Toyota dan Huawei untuk menciptakan “pesantren skill” yang menyiapkan santri memasuki dunia kerja.
“Kita akan buat pilot project pesantren dengan kurikulum berbasis industri. Misalnya, pesantren otomotif bekerja sama dengan Toyota, atau pesantren IT dengan Huawei,” jelas Gus Imin.
Tantangan dan Harapan
Gus Imin mengakui masih ada paradigma tradisional di kalangan pengasuh pesantren yang menganggap “rezeki sudah diatur Tuhan” tanpa upaya maksimal. “Ini yang harus kita ubah. Santri harus dipersiapkan dengan skill kompetitif,” tegasnya.
Konferensi ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk pemerintah dan pesantren, termasuk revisi UU Pendidikan dan UU Pesantren, agar lulusannya mampu bersaing di era digital.
“Pesantren harus berubah. Jika tidak, kita akan ketinggalan kereta,” pungkas Gus Imin.






