INAnews.co.id, Pekanbaru– Pengamat politik Rocky Gerung kembali menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan di Indonesia, khususnya di Riau, dalam sebuah diskusi yang disiarkan melalui akun YouTube-nya hari ini. Rocky menekankan pentingnya peran insinyur dalam melihat dampak pembangunan bukan hanya dari kacamata teknokratis, tetapi juga dari perspektif ekologis dan etika lingkungan.
Rocky memulai dengan refleksi filosofis mengenai “objek vital” yang perlu dilindungi. Ia tidak hanya merujuk pada objek vital fisik yang dirumuskan undang-undang, tetapi juga “tuah dan marwah” yang tidak terlihat namun esensial untuk mempertahankan tradisi adat, nilai-nilai, dan integritas.
“Rumusan inilah yang memungkinkan kita menganggap bahwa lingkungan itu memberi nilai pada kehidupan dan kita mesti rawat itu,” ujarnya.
Rocky mengartikan insinyur sebagai “Very Insincere Person”, yaitu individu yang menggunakan akal dan hati untuk menumbuhkan harapan, mengolah alam, namun sekaligus memperhatikan dampak sosial dan psikologis dari pengelolaan alam. Ia membedakan antara “insinyur” (profesi) dan “keinsinyuran” (cara berpikir dan etos), yang menurutnya harus mencakup “kemanusiaan bagi seluruh semesta”.
Ia mengkritik bahwa Indonesia hari ini seolah-olah hanya diingat berdasarkan jumlah jalan tol yang dibangun, mengacu pada era Presiden Jokowi. Akibatnya, sumber daya alam dikuras, sementara “jalan pikiran makin pendek” karena cara merumuskan pengetahuan yang terbatas.
Kemudian, Rocky menyoroti bahaya efisiensi semu yang didorong oleh Artificial Intelligence (AI). “Apa yang ditanyakan (masyarakat) hal-hal dangkal sepele, maka suatu waktu para pemilik Artificial Intelligence akan merumuskan Indonesia itu adalah kumpulan orang yang tidak bisa berpikir kritis,” tegasnya.
Dalam sesi diskusi, Rocky Gerung menyajikan ilustrasi tentang “sungai vertikal” dalam setiap tumbuhan, di mana air naik dari akar melalui kapiler-kapiler. Ini menggambarkan bahwa lingkungan memiliki kompleksitas tersembunyi yang perlu dipahami secara ekologis.
Rocky juga mengemukakan fenomena hutan Amazon dan Gurun Sahara, di mana fosfat dari Sahara menguap dan menjadi pupuk alami bagi Amazon. “Alam mengatur ritus hidupnya, kalau diintervensi oleh manusia alam bingung dia tidak tahu bagaimana memulihkan dirinya sendiri,” jelasnya.
Rocky menekankan konsep “antroposin”, yaitu era di mana kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh manusia melampaui kemampuan alam untuk memperbaikinya sendiri. Berbeda dengan kerusakan alam yang bisa dipulihkan oleh hukum homeostatis bumi.
Ia juga mengilustrasikan “butterfly effect” dengan contoh jenaka namun mendalam: “Nyamuk yang tewas di ruangan ini bisa menyebabkan banjir di kota Amsterdam.” Hal ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa gangguan kecil sekalipun, seperti tewasnya seekor nyamuk, dapat memiliki konsekuensi ekologis dan bahkan geopolitik yang tak terduga, mengingatkan pada hubungan antara perilaku individu dan dampak global.
Rocky menyoroti kasus kerusakan ekologi di Riau sebagai akumulasi sempurna dari dampak lingkungan dan sosial. Ia berbicara tentang dilema antara hak masyarakat yang mendiami taman nasional untuk bertahan hidup dan hak satwa liar seperti gajah untuk mempertahankan habitatnya.
“Para politisi kita kadang, bahkan sering, menganggap bahwa akumulasi (kekayaan) lebih penting dari konservasi,” kritik Rocky, yang berujung pada konflik agraria. Ia membayangkan gajah-gajah di Riau, seperti Domang dan Tari, yang menunggu kepastian nasib habitat mereka di tengah negosiasi antara pengusaha, pejabat lokal, dan kementerian.
Rocky menceritakan pengalaman pribadinya saat mendaki Himalaya dan diselamatkan oleh kotoran Yak yang menghasilkan panas. Pengalaman ini menguatkan keyakinannya tentang pentingnya menghargai lingkungan dan makhluk lain, bahkan dalam kondisi paling kritis.
Ia berharap Perhimpunan Insinyur Indonesia (PII) dapat menjadi wadah untuk percakapan akademis yang berkelanjutan mengenai kondisi lingkungan Indonesia, terutama di tengah gejolak politik global. “Kalau terjadi perang dunia, sumber energi Indonesia itu akan diperebutkan oleh negara-negara superpower dan itu artinya kerusakan lingkungan akan lebih besar lagi,” paparnya.
Mengakhiri diskusinya, Rocky Gerung menyampaikan harapannya untuk Pekanbaru: “Biarkan IKN jadi Ibu Kota Negara, biarkan Jakarta jadi Ibu Kota Politik, biarkan Surabaya jadi Kota Bisnis, tapi saya ingin Pekanbaru Kota Lingkungan.” Ia menyerukan persatuan para insinyur untuk “menghasilkan Indonesia baru” yang lebih peduli terhadap lingkungan dan masa depan.






