Menu

Mode Gelap
CBA: Dugaan Anggaran Pembongkaran 98 Tiang Monorel Rp100 Miliar dan Berpotensi Mark Up Prabowo Janji Buka Kampus Kedokteran Gratis untuk Anak Pemulung “Jangan Malu Orang Tuamu Pemulung”, Motivasi Prabowo untuk Siswa Sekolah Rakyat Program MBG Capai 58 Juta Penerima Indonesia Raih Swasembada Beras dengan Produksi Tertinggi Sepanjang Sejarah Peringati HBI ke 76, Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Buka Pelayanan Pada Hari Sabtu

DAERAH

Menjaga Lingkungan Hidup di Sulawesi Tengah: Menyelamatkan Jantung Hijau Nusantara

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Sulawesi Tengah (Sulteng) adalah salah satu provinsi dengan bentang alam paling beragam di Indonesia. Dari pegunungan tinggi yang diselimuti kabut, danau-danau purba yang tenang, hingga pesisir yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut, wilayah ini ibarat jantung hijau Nusantara yang terus berdenyut. Namun di balik keindahan itu, Sulteng juga menghadapi ancaman serius: kerusakan hutan, pencemaran sungai, perubahan iklim, hingga degradasi ekosistem akibat aktivitas manusia . Maka menjaga lingkungan hidup di Sulawesi Tengah bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan mendesak.

Keajaiban Alam Sulteng yang Harus Tetap Terjaga

Sulawesi Tengah memiliki kekayaan alam yang tak ternilai. Taman Nasional Lore Lindu, misalnya, menjadi rumah bagi satwa endemik seperti burung maleo, anoa, dan babirusa. Hutan-hutannya menyimpan oksigen dan air yang menopang kehidupan masyarakat dari Palu hingga Poso. Sementara itu, Teluk Tomini dan Kepulauan Togean adalah surga laut yang menyimpan terumbu karang, ikan karang, bahkan spesies langkaseperti penyu hijau.

Di wilayah lembah dan pegunungan, mengalir sungai-sungaibesar seperti Sungai Lariang, Miu, dan Palu. Semua menjadi Sumber air, irigasi, dan perikanan. Namun pesona alam ini bisa lenyap jika tidak dijaga dengan baik.

Ancaman yang Mengintai: Dari Hutan Gundul hinggaSampah Plastik

Dalam dua dekade terakhir, Sulteng mengalami tekanan lingkungan yang cukup berat. Pembukaan lahan tanpa kontrol, aktivitas tambang yang tidak ramah lingkungan, serta seringnya bencana longsor dan banjir mengubah wajah banyak daerah. Di Palu, gempa dan likuefaksi menjadi bukti bahwa kerusakan alam memperbesar risiko bencana.

Di pesisir, sampah plastik menjadi musuh baru. Banyak pantai dan pulau mulai terdampak sampah kiriman, mencemari perairan tempat masyarakat menggantungkan hidupnya. Sementara itu, hutan mangrove di beberapa daerah, seperti Donggala dan Parigi Moutong, mulai tergerus pembangunan tanpa perencanaan matang.

Semua ini menunjukkan bahwa Sulteng perlu pendekatan seriusdalamu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan.

Peran Masyarakat: Garda Terdepan Penyelamat Alam

Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. Di beberapa daerah Sulteng, kesadaran ini mulai tumbuh kuat. Desa-desa di sekitar Lore Lindu membentuk kelompok penjaga hutan, melakukan patroli bersama, serta menjaga satwa dari perburuan. Sementara di Togean, komunitas lokal mulai menerapkan aturan wisata ramah lingkungan, seperti membatasi penggunaan perahu bermotor dan mengelola sampah wisata.

Di Palu dan Donggala, masyarakat muda bergerak melalui komunitas pecinta pantai dan sungai. Mereka rutin melakukan bersih-bersih, mengkampanyekan pengurangan plastik, dan menanam mangrove. Gerakan kecil seperti ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana.

Pemerintah Daerah dan Kebijakan yang LebihBerkelanjutan

Pemerintah Sulawesi Tengah memiliki peran vital dalam menjaga keberlangsungan lingkungan. Penetapan kawasan konservasi, penegakan hukum untuk aktivitas ilegal, serta pengawasan ketat terhadap pertambangan adalah langkah yang harus terus diperkuat.

Selain itu, penting bagi pemerintah untuk mendorong pendidikan lingkungan sejak sekolah dasar. Anak-anak perlu diperkenalkan pada pentingnya menjaga hutan, menjaga air, dan mencintai satwa. Jika kesadaran ini tumbuh sejak kecil, maka generasi mendatang akan lebih siap menjaga lingkungan yang semakin rapuh.

Program rehabilitasi mangrove, reboisasi hutan yang rusak, hingga pengembangan ekowisata juga menjadi jembatan antara kelestarian alam dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Ekowisata: Jalan Tengah untuk Menjaga Alam dan Menggerakkan Ekonomi

Ekowisata menjadi salah satu potensi besar bagi Sulawesi Tengah. Dari Pusentasi di Donggala, Danau Poso, pegunungandi Napu, hingga keindahan bawah laut Togean—semuanya bisa dikembangkan tanpa merusak lingkungan. Dengan pendekatan ramah alam, masyarakat bisa mendapatkan manfaat ekonomi sambil menjaga kelestarian alam mereka.

Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati keindahan, tetapi juga belajar menghargai lingkungan, berinteraksi dengan masyarakat lokal, dan memberikan dampak ekonomi langsung.

Menjaga Sulteng Berarti Menjaga Masa Depan

Sulawesi Tengah adalah wilayah yang menyimpan kekayaanalam luar biasa—sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak daerahlain. Namun kekayaan itu rapuh jika tidak dirawat. Menjaga lingkungan hidup di Sulteng berarti menjaga keseimbangan alam, kestabilan ekonomi, dan keselamatan generasi mendatang.

Setiap pohon yang ditanam, setiap sampah yang dibersihkan, setiap aturan yang ditegakkan, adalah bentuk cinta pada bumi Sulawesi Tengah. Dan cinta itulah yang akan memastikan bahwa provinsi ini tetap menjadi jantung hijau Nusantara yang berdenyut kuat, hari ini dan esok.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Gakeslab Indonesia Salurkan Bantuan Korban Bencana Alam Sumatera Dan Rehabilitasi RSUD Aceh Tamiang

10 Januari 2026 - 13:06 WIB

Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi

9 Januari 2026 - 22:52 WIB

Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango

9 Januari 2026 - 18:59 WIB

Populer DAERAH