INAnews.co.id, Jakarta– Akademisi ITB memperingatkan Indonesia “bertarung dengan waktu” untuk mencapai net zero emission 2060, mengingat track record pemerintah yang realisasinya selalu di bawah target.
“Targetnya 2060 itu bicara waktu. Dalam rentang waktu dari sekarang 2025 ke 2060, cukup tidak waktu kita untuk cope dengan rentang waktu yang kita targetkan sendiri?” pertanyaan kritis ini dilontarkan Grandprix Thomryes dalam diskusi INDEF, Jumat (26/12/2025).
Ia mengingatkan, “Selama ini beberapa tahun ke belakang target dengan realisasi—realisasinya lebih di bawah. Sehingga butuh akselerasi, sekarang butuh percepatan.”
Target E15 pada 2025 yang hanya tercapai E5 menjadi bukti nyata. Bahkan untuk mencapai E10, pemerintah memproyeksikan baru terpenuhi pada 2029—empat tahun lagi. “Ada proyeksinya sampai 2029 baru dipenuhi. Kalau bisa dipercepat, apa yang bisa dilakukan?” tanya Kukuh Kumara.
Abra Talattov menekankan pentingnya evaluasi rutin. “Kita mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi ataupun monitoring secara rutin, baik setiap semester atau setiap tahun, sehingga gap antara target dan realisasi bisa kita ukur.”
Grandprix menyimpulkan, “Transisi energi hijau itu keniscayaan. Mau tidak mau akan terjadi. Yang menjadi kata kunci adalah seberapa cepat kita beradaptasi.”






