INAnews.co.id, Jakarta– Gelombang teror politik yang menyasar YouTuber dan kritikus pemerintah kini merambah hingga pedesaan. Seorang peneliti senior, Ikrar Nusa Bhakti, mengungkapkan kasus warga desa di Jawa Barat yang diteror keluarga kepala desa hanya karena memposting kondisi jalan desa yang rusak parah.
Dalam unggahan YouTube-nya, Selasa (6/1/2026), Ikrar mencontohkan seorang pedagang telur di sebuah desa di Jawa Barat yang mengalami teror setelah membuat postingan pendek tentang jalan desa yang rusak dan tidak bisa dilalui sepeda.
“Seorang warga masyarakat di sebuah kampung di Jawa Barat itu diteror oleh keluarga dari seorang kepala desa. Kenapa? Gara-gara dia membuat satu postingan pendek mengenai jalan desa yang rusak parah yang tidak bisa dilalui dengan sepeda,” ungkap Ikrar.
Pedagang tersebut membutuhkan jalan yang layak untuk mengangkut telur dagangannya. Kekhawatirannya jika sepeda terpeleset atau jatuh di jalan rusak, telur-telur yang dibawanya akan pecah dan merugikan usahanya.
Ikrar menyebut fenomena teror ini bukan hanya menimpa YouTuber terkenal tetapi telah ditiru oleh oknum di daerah pedesaan. Sebelumnya, berbagai YouTuber dan kritikus pemerintah mengalami intimidasi serupa, mulai dari mobilnya dicoret, rumah dilempari telur busuk, hingga dikiriminya barang-barang mahal secara COD yang tidak pernah dipesan.
Peneliti senior tersebut mendesak warga yang mengalami teror serupa untuk membuat laporan resmi ke polisi dengan dokumentasi lengkap, termasuk merekam kejadian melalui CCTV. “Kalau Anda memang mendapatkan teror-teror semacam itu, buat laporan resmi kepada polisi kapan itu terjadi dan kemudian kalau perlu detik per detik, menit per menit,” tegas Ikrar.
Namun, Ikrar juga mencatat keraguan sebagian masyarakat terhadap keseriusan polisi dalam menangani kasus-kasus teror tersebut, mengingat hal ini merupakan bagian dari permainan politik kekuasaan.
Fenomena teror politik di awal 2026 ini, menurut Ikrar, menjadi bagian dari dinamika politik Indonesia yang semakin kompleks, di mana kebebasan berpendapat warga bahkan di tingkat grassroot mulai terancam.






