INAnews.co.id, Jakarta– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak makroekonomi yang positif namun relatif kecil dalam jangka pendek, dengan peningkatan PDB hanya sekitar 0,15-0,17 persen pada awal 2040-an. Namun manfaat utamanya tercermin pada peningkatan kesejahteraan antar generasi, demikian hasil analisis menggunakan model Overlapping Generation (OG) Indonesia yang dipresentasikan INDEF, Rabu (8/1/2026).
“MBG ini punya dampak positif terutama dalam menstimulus investasi, tetapi tidak permanen. Dalam konteks konsumsi, program ini cukup memberikan dorongan terhadap kesejahteraan antar generasinya,” ungkap Muhammad Rizal Taufikurrahman, Kepala Center Makroekonomi dan Keuangan INDEF.
Analisis yang dilakukan bekerja sama dengan United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA) ini menggunakan model OG Core yang dikalibrasi khusus untuk Indonesia. Model tersebut mampu menganalisis dampak kebijakan lintas beberapa generasi ke depan.
Dari sisi fiskal, penelitian menunjukkan MBG bersifat netral dan berkelanjutan karena dibiayai melalui realokasi anggaran, bukan utang baru. Rasio utang terhadap PDB tetap stabil dalam jangka panjang.
Rizal menekankan pentingnya tata kelola program. “Tanpa tata kelola yang baik, MBG berisiko menjadi transfer konsumtif yang menciptakan beban fiskal antar generasi tanpa imbal hasil ekonomi jangka panjang yang memadai,” tegasnya.
Program MBG tahun 2025 menelan anggaran Rp71 triliun dengan penerima mencapai hampir 1 juta orang. Di 2026, anggarannya ditingkatkan hampir 4 kali lipat.






