INAnews.co.id, Jakarta– Pemerintah menempatkan Danantara dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai instrumen strategis untuk membebaskan Indonesia dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Eka Chandra Buana, Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, menyatakan kedua program tersebut menjadi flagship dalam kerangka RPJMN 2025-2029 dengan fokus pada trisula pembangunan: pertumbuhan berkelanjutan, pemerataan dan pengurangan kemiskinan, serta pembangunan SDM berkualitas.
“Danantara mendorong investasi pada sektor prioritas dengan multiplier effect tinggi, sementara MBG adalah investasi SDM lintas generasi yang dampak ekonominya akan terealisasi dalam jangka menengah-panjang,” ungkap Eka dalam keynote speech diskusi INDEF, Rabu (8/1/2026).
Ibnu Yahya, Direktur Perencanaan Ekonomi Makro dan Pengembangan Model Pembangunan Bappenas, menambahkan Indonesia menghadapi tantangan struktural: ekonomi stagnan 30 tahun, stunting tinggi, dan ketimpangan yang masih lebar.
“Share manufaktur Indonesia hanya 19 persen, lebih rendah dari Malaysia yang sudah di atas 20 persen meski mereka hampir jadi negara maju. Danantara harus diarahkan untuk meningkatkan kompleksitas produk, tidak hanya di tambang tapi juga produk bernilai tambah tinggi,” jelasnya.
Untuk MBG, Ibnu menekankan urgensi program menghadapi berakhirnya bonus demografi 2037. “Rasio ketergantungan akan tinggi setelah 2037. MBG harus meningkatkan kualitas SDM sejak dini agar generasi produktif pasca-2037 mampu menciptakan nilai tambah tinggi di tengah beban ketergantungan yang besar,” paparnya.
Bappenas menargetkan porsi industri manufaktur naik dari 21,9 persen menjadi 28 persen pada tahap pertama RPJPN, sementara penduduk berpendapatan menengah harus meningkat signifikan.






