INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Ustaz Adian Husaini menegaskan bahwa bencana yang melanda Indonesia bukan sekadar persoalan ekologi, tetapi juga mencerminkan krisis moral dan spiritual umat. Hal ini disampaikannya dalam diskusi bersama Ustaz Hadi Ramadan yang diunggah di kanal YouTube Adianusa, Selasa (13/1/2026).
Adian mengingatkan pentingnya kembali merujuk pada buku klasik “Fikih Dakwah” karya Mohammad Natsir sebagai panduan menghadapi berbagai tantangan zaman. Menurutnya, pemahaman terhadap musibah tidak boleh dipersempit hanya pada kerusakan alam, melainkan harus dipahami secara komprehensif melalui tiga sumber ilmu: pancaindra, akal, dan wahyu.
“Orang sekarang kadang kala musibah ini terjadi, itu disempitkan menjadi bencana ekologi. Musibah terjadi karena alam rusak, karena hutan rusak. Ya, itu harus diperbaiki. Itu betul, itu tidak keliru. Tapi ini tidak lengkap,” ujar Adian dalam pengajian akhir tahun ormas-ormas Islam.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, musibah bisa terjadi meskipun alam dalam kondisi baik. Wahyu mengajarkan bahwa Allah dapat menurunkan azab ketika kemaksiatan—terutama syirik—dibiarkan meraja lela dalam masyarakat.
Dakwah Sebagai Kewajiban Utama
Adian mengutip konsep Mohammad Natsir dalam Fikih Dakwah yang membagi umat menjadi dua: umatan dakwah (umat yang berdakwah) dan umatan ijabah (umat yang menerima dakwah). Menurutnya, umat Islam hanya akan mendapat pertolongan dan keberkahan Allah jika menjadi umat yang aktif berdakwah.
“Pak Natsir menekankan kewajiban dakwah itu wajib bagi setiap individu muslim dan wajib bagi komunitas muslim. Aktivitas dakwah atau amar makruf nahi mungkar ini harus menjadi aktivitas utama,” jelasnya.
Natsir, lanjut Adian, mengibaratkan korps dakwah seperti pasukan tempur yang profesional di bidang rohani dan mental spiritual. Tanpa keseriusan dalam berdakwah, umat akan menghadapi kehancuran sebagaimana diperingatkan dalam hadis Rasulullah.
Kritik terhadap Sekularisme Ilmu
Adian juga menyoroti bahaya sekularisme yang tidak hanya terbatas pada pemisahan agama dan politik, tetapi telah merambah ke berbagai bidang kehidupan, terutama ilmu pengetahuan dan pendidikan. Ia menilai banyak pesantren belum memiliki guru khusus yang mengajarkan bahaya sekularisme.
“Pak Natsir mengingatkan bahaya sekularisme justru mulai dari sekularisasi ilmu,” kata Adian.
Menurutnya, buku Fikih Dakwah seharusnya menjadi bacaan wajib di kampus-kampus Islam dan pesantren, sebagaimana pernah diterapkan di International Islamic University Malaysia (IIUM) pada era 1990-an.
Pendidikan Melahirkan Mujahid
Adian menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan mujahid dakwah, bukan sekadar menghasilkan lulusan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja kapitalis. Ia mengkritik pandangan yang meremehkan ilmu dakwah dibanding ilmu-ilmu lain.
“Ilmu dakwah ini ilmu tinggi. Karena dakwah ini targetnya itu pikiran dan hati manusia. Seorang dai itu harus bisa sains teknologi, harus menguasai ulumuddin yang cukup, harus berakhlak mulia,” tegasnya.
Sebagai penutup, Adian mengajak generasi muda untuk tidak takut dalam memperjuangkan Islam. “Jangan takut tidak makan, jangan takut tidak bisa kerja. Karena kalau kamu serius melanjutkan perjuangan Rasulullah, ikhlas berjuang karena Allah, Allah jamin kehidupanmu, rezekimu,” pungkasnya mengutip pesan Natsir.
DDII berencana menggelar Training of Trainer (ToT) khusus untuk membedah buku Fikih Dakwah agar dapat diajarkan secara sistematis di berbagai lembaga pendidikan Islam.






