Menu

Mode Gelap
Lebih dari 300 Izin Tambang di Pulau Kecil Langgar UU Mempertanyakan Pertanggungjawaban Dana Jaminan Reklamasi Tambang UU Cipta Kerja Dinilai Permudah Perusakan Lingkungan Deforestasi Legal Lebih Besar dari Ilegal Sidang Sengketa Lahan di Desa Sea Memanas, Saksi Ungkap Fakta Mengejutkan, BPN Diduga Terlibat Pemalsuan Data Auriga: Pencabutan Izin 28 Perusahaan Dinilai “Pura-Pura”

EKONOMI

Thomas Djiwandono Deputi Gubernur BI Ancam Depresiasi Rupiah Lebih Dalam

badge-check


					Foto: Deniey Purwanto, dok. IPB Perbesar

Foto: Deniey Purwanto, dok. IPB

INAnews.co.id, Jakarta– Pengangkatan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan dan berpotensi memperdalam depresiasi rupiah hingga 2,5 persen dalam waktu dekat.

Ekonom Deniey A Purwanto dalam diskusi publik Selasa (27/1/2026) memaparkan empat skenario dampak pengangkatan Thomas terhadap nilai tukar rupiah. Skenario terburuk adalah jika independensi BI benar-benar menurun, rupiah bisa terdepresiasi hingga 2,5 persen.

“Apalagi jika ditambah guncangan eksternal seperti kebijakan Trump yang tidak terprediksi, depresiasi bisa lebih parah lagi,” kata Deniey.

Deniey menjelaskan, sejak awal Januari 2026 pasar mengalami “institutional shock” setelah pengunduran diri Juda Agung dan pengangkatan Thomas yang memiliki kedekatan politik dan kekeluarga dengan pemerintah. Nilai tukar sempat mendekati rekor terendah di Rp16.985 per dolar AS.

“Pasar merespon bahwa akan ada disrupsi terhadap independensi Bank Indonesia. Ini menciptakan kekhawatiran di kalangan investor domestik maupun luar negeri,” jelasnya.

Menurut Deniey, pengangkatan dari eksternal BI menciptakan biaya tambahan berupa premi risiko, volatilitas nilai tukar yang lebih tinggi, dan biaya tata kelola internal terkait learning curve. Namun, biaya ini bersifat sementara jika Thomas mampu membuktikan kredibilitasnya.

Dalam jangka pendek 30 hari ke depan, pasar akan fokus pada pernyataan dan sinyal kebijakan yang disampaikan Thomas. “Words matter more than action di fase awal ini,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

PLN Keluhkan Teknologi Datang Lebih Dulu dari Regulasi

29 Januari 2026 - 09:59 WIB

Harga Mahal dan Regulasi tak Pasti Jadi Penghalang Investasi EBT

29 Januari 2026 - 07:57 WIB

2026 Tahun Berat untuk Ekonomi dan Demokrasi Indonesia

28 Januari 2026 - 21:35 WIB

Populer EKONOMI