INAnews.co.id, Jakarta– Kombinasi cadangan devisa yang rendah dengan rasio utang dalam mata uang asing yang tinggi membuat Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal dan tekanan nilai tukar rupiah.
Ekonom Abdul Manap Pulungan (INDEF) dalam diskusi Selasa (27/1/2026) menyebut rasio utang Indonesia dalam mata uang asing mencapai 30,5 persen, sementara cadangan devisa hanya 11 persen. “Ini cukup tinggi di tengah cadangan devisa kita yang rendah,” katanya.
Kerentanan juga terlihat dari kedalaman pasar uang valas Indonesia yang sangat rendah, hanya US$7,01 miliar per hari, jauh di bawah Malaysia, Singapura yang mencapai US$1,4 triliun per hari, dan Thailand.
“Orang akan memanfaatkan kedalaman pasar di Singapura karena instrumennya banyak dan turnover-nya tinggi. Pasar keuangan valas kita tidak akan dalam,” jelas Manap.
Kondisi eksternal juga semakin menantang dengan volatilitas pasar global yang tinggi dan harga komoditas batubara yang terus menurun. “Kombinasi kondisi ini mendorong dolar semakin menguat dan mempersempit ruang manuver negara berkembang,” ujarnya.
Manap mencatat pertumbuhan kredit perbankan melambat karena dana lebih banyak dialokasikan ke SRBI dan SBN. Meski kepemilikan asing di SRBI menurun, dana tersebut ditampung oleh bank umum sehingga fungsi intermediasi keuangan tetap lambat.
“Pertumbuhan ekonomi 5,2 persen pun susah tercapai jika perbankan memarking dana di SRBI dan SBN dibanding menyalurkan kredit,” tegasnya.






