INAnews.co.id, Jakarta– Teknokrat dan akademisi Yanuar Nugroho menyayangkan sikap pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai kebal terhadap kritik dan menganggap setiap kritikan sebagai bentuk anti-pemerintah. Ia menegaskan bahwa kritik justru merupakan wujud cinta pada republik.
“Karena orang melihatnya kemudian mengkritik dianggap anti pemerintah. Kan beberapa akademisi termasuk teman kita itu kan diancam karena mengkritik, aktivis-aktivis dikirimi bangkai binatang atau apa pun karena mengkritik,” kata Yanuar dalam podcast bersama Mahfud MD, Selasa (27/1/2026).
Yanuar menjelaskan bahwa pemerintah saat ini cenderung imun terhadap kritik atau jika ada kritik masuk tidak dianggap. Ia mencontohkan bagaimana media diminta memberitakan yang baik-baik saja, akademisi disindir sebagai “orang pintar jangan nyinyir,” dan kasus orang tua yang protes soal kualitas MBG justru anaknya dihukum.
“Saya tidak anti pemerintah. Ini memang pemerintahan yang terpilih dengan sah. Tapi mengingatkan cara menjalankan pembangunan itu enggak begitu,” tegasnya.
Ia mengaku terus menerima telepon dari pejabat, mantan menteri, hingga staf khusus setiap kali menulis kritik. Ada yang membenarkan tulisannya namun meminta agar tidak terlalu terbuka, ada pula yang menganggapnya sebagai “intelektual murahan.”
Yanuar mengajak akademisi dan masyarakat sipil untuk terus bersuara meski dianggap nyinyir. “Tulis saja, nulis terus saja. Ada yang mengingatkan dengan cara menulis, ada yang mengingatkan bikin podcast seperti ini, ada yang mengingatkan dengan jalan di sosial media. Semua cara,” ujarnya.
Mahfud MD mendukung pernyataan Yanuar dengan mengutip pesan Gus Dur bahwa kritik adalah vitamin bagi pemerintahan demokratis.






