INAnews.co.id, Jakarta– Pengamat ekonomi senior Yanuar Rizky memperingatkan Indonesia menghadapi ancaman krisis ekonomi serius di 2026, ditandai anjloknya daya beli masyarakat hingga meningkatnya kriminalitas jalanan.
“18 juta orang bekerja pada keluarga dan tidak digaji tapi dicatat bekerja. Orang yang punya tabungan di bawah Rp100 juta, rata-rata saldo hariannya dulu Rp21 juta, turun menjadi Rp19 juta. Ini sudah terjadi,” ujar Yanuar dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Kamis (29/1/2025).
Yanuar menjelaskan penurunan daya beli terkonfirmasi dari turunnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPH). “Tren kita lagi mengalami penurunan PPN, penurunan PPH. Artinya dari data makro ini menunjukkan daya beli yang turun,” katanya.
Ia mencontohkan, masyarakat kelas menengah bawah kini terpaksa mengambil pinjaman online (pinjol) untuk konsumsi dan tidak mampu membayar. Sementara kelas menengah atas mengalami kenaikan Non-Performing Loan (NPL) kartu kredit hingga dua kali lipat menjadi 1,75 persen.
“Untuk sekedar menjadi bonek modal nekad meminjam uang pun sudah tidak bisa. Ini akan mengakibatkan gesekan kelas, perang kelas,” peringat Yanuar.
Ekonom tersebut juga mencatat meningkatnya kriminalitas jalanan sebagai indikator krisis. “Bayangin sekarang, di tol bandara ada yang sengaja masang batu lancip sehingga begitu kempes diambil. Ini indikator kriminalitas di jalanan meningkat,” ujarnya.
Yanuar mengingatkan Presiden Prabowo agar tidak terlepas dari realitas masyarakat. “Kecemasan yang memuncak ini berbahaya. Tolong jangan terlepas konektivitas Bapak dengan realitas,” pesannya.






