INAnews.co.id, Jakarta– Klaim pertumbuhan ekonomi 5 persen yang disampaikan pemerintah dinilai anomali dan tidak sesuai dengan kondisi riil masyarakat yang semakin kesulitan.
“Pemerintah seolah-olah menina-bobokan kita dengan statement bahwa pertumbuhan ekonomi baik sampai 5 persen. Ini anomali karena tidak sesuai kenyataan, orang semakin susah,” kata pengamat ekonomi Yanuar Rizky dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Kamis (29/1/2025).
Yanuar menjelaskan pertumbuhan ekonomi kuartal 3 2025 yang kontroversial hingga digugat Celios ke Dewan Statistik PBB terjadi karena komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang dimasukkan BPS.
“Yang dimasukkan adalah PMTB, sehingga terlihat ada peningkatan. Padahal konsumsi rumah tangga yang market share-nya 54 persen dari pertumbuhan ekonomi justru menurun,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa konsumsi rumah tangga adalah faktor terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan elastisitas jangka panjang. “Kalau kita punya tumpeng, porsi terbesar adalah konsumsi. Ketika saya ingin tumpeng tambah besar, konsumsi yang harus lebih besar,” analoginya.
Yanuar juga mengkritik kenaikan pertumbuhan ekonomi Q3 yang bersumber dari pembelian alutsista pemerintah, bukan investasi swasta. “Naiknya faktor investasi bukan dari PMTB swasta, tapi dari belanja pemerintah. Ini yang harusnya dicatat di bulan Desember, diakui di bulan ini supaya kelihatan peningkatan,” ungkapnya.






