INAnews.co.id, Jakarta– Pengamat politik Adi Prayitno menilai Pemilihan Umum 2029 akan menjadi ajang pembuktian sesungguhnya bagi mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden dan berpisah dari PDIP. Menurut Adi, kesuksesan atau kegagalan PSI lolos ke parlemen di 2029 akan menjadi satu-satunya parameter untuk mengukur apakah Jokowi masih memiliki kekuatan politik tanpa dukungan mesin PDIP.
Adi menyampaikan analisisnya melalui kanal YouTube pribadinya pada Sabtu, 31 Januari 2026, menyusul komitmen politik Jokowi dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar yang berlangsung 29-31 Januari. Dalam pidato politiknya, Jokowi menyatakan kesediaan untuk turun gunung secara total, bahkan hingga tingkat kecamatan, demi memenangkan PSI.
“Satu-satunya pembuktian, satu-satunya uji materi, satu-satunya uji kekuatan politik Jokowi tentu harus mampu mengantarkan partai ini, partai PSI, partai yang berlogo gajah untuk pertama kalinya lolos ke parlemen khususnya di 2029,” ujarnya.
Menurut Adi, komitmen Jokowi yang disampaikan di Makassar semakin memperkuat indikasi bahwa PSI telah menjadi kendaraan politik utama Jokowi. Ia menilai, meskipun belum ada pengumuman resmi tentang Mr. J yang selama ini diisukan, secara gestur politik sudah sangat jelas bahwa Jokowi adalah kiblat dan imam besar PSI.
Adi juga menyoroti instruksi Ketua Harian PSI Ahmad Ali yang mewajibkan seluruh kader PSI di Indonesia untuk memasang foto Jokowi di setiap atribut kampanye, mulai dari baliho, banner, hingga materi promosi lainnya. Ahmad Ali menyebut Jokowi sebagai satu-satunya tokoh nasional yang harus ditetapkan dalam setiap kampanye PSI, dan meminta kader meniru keteladanan sikap politik Jokowi yang dinilai bersahaja dan merakyat.
Pengamat politik ini mengakui adanya perdebatan di kalangan publik tentang apakah Jokowi masih memiliki kekuatan elektoral tanpa jabatan presiden dan dukungan mesin politik PDIP. Beberapa pihak berpendapat bahwa kesuksesan Jokowi di Solo, Jakarta, hingga menjadi presiden dua periode tidak terlepas dari peran PDIP.
Adi mencatat bahwa PSI sebenarnya sudah mengkapitalisasi nama Jokowi dalam Pemilu 2024, terlihat dari banner dan baliho yang menampilkan foto Jokowi bersebelahan dengan Kaesang Pangarep, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PSI. Namun, upaya tersebut tidak berhasil mengantarkan PSI lolos ke parlemen.
“Kalau PSI tidak lolos ke parlemen, maka yang paling banyak dikritik dan pastinya yang akan paling banyak dibully adalah Pak Jokowi. Begitupun sebaliknya, jika partai ini PSI lolos ke parlemen di 2029, maka pertama kalinya yang paling banyak dicari dan paling banyak disanjung puji, the one and only pastilah Jokowi,” tegas Adi.
Dengan demikian, Adi menilai Pemilu 2029 akan menjadi momen kebenaran (moment of the truth) bagi Jokowi dan para pendukungnya untuk membuktikan apakah mantan orang nomor satu di Indonesia ini masih memiliki daya tarik elektoral yang kuat atau justru kehilangan kesaktiannya setelah tidak lagi berkuasa dan berpisah dari partai yang pernah menaunginya selama bertahun-tahun.






