INAnews.co.id, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto memberikan ultimatum kepada Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengundurkan diri sebelum pukul 18.00. Pengamat politik Said Didu mengungkapkan hal itu terjadi saat pertemuan mereka di Istana dan langsung dieksekusi.
“Dia keluar terima telepon masuk lagi, ‘Ah bagus kepala OJK mengundurkan diri.’ Loh kenapa Pak? ‘Memang saya ultimatum agar dia mundur sebelum jam 18.00’,” cerita Said Didu mengenang momen tersebut dalam wawancara dengan Akbar Faizal, Sabtu (14/2/2026).
Prabowo menjelaskan alasan tegas di balik ultimatumnya. “Saya sudah ingatkan, pemain-pemain saham ini tidak bisa lagi memanfaatkan Bursa Efek Jakarta untuk merampok uang rakyat,” kata Prabowo saat itu.
Said Didu yang hadir dalam pertemuan tersebut bersama empat tokoh oposisi lainnya memuji ketegasan Presiden. “Nah itu Pak Pemimpin, ini baru pemimpin,” ujarnya.
Ia juga mengungkap sikap spontan Prabowo terhadap penggusuran petani tambak di PIK 2. Saat Said Didu menyinggung masalah tersebut, Prabowo langsung bereaksi cepat.
“Spontan tuh, jadi kalau spontan itu berarti di hatinya. Langsung ada Wamentan di situ, ‘Hentikan penggusuran sawah, penggusuran tambak itu enggak boleh’,” kata Said Didu.
Namun Said Didu juga mengkritisi cara kerja Prabowo yang membuatnya frustrasi. “Pak Presiden mohon maaf, niat Bapak saya setuju tapi saya frustrasi dengan cara Bapak,” ungkapnya terus terang.
Ia memperingatkan Prabowo sudah masuk dalam posisi berbahaya. “Bapak sekarang sudah masuk di titik to kill or to be killed, dibunuh atau membunuh. Karena dari tujuh presiden sekarang, Bapak Presiden kedelapan yang berani menyentuh oligarki,” katanya.
Said Didu menilai masalah utama Prabowo adalah keterbatasan informasi. “Informasi dibatasi dan terbatas, hanya beberapa pintu yang bisa masuk. Orang ini punya patriotisme, punya nasionalisme, punya idealisme, jangan ditutupi informasi,” tegasnya.






