INAnews.co.id, Jakarta– Rencana rekonstruksi Gaza yang diusung Donald Trump dinilai bukan solusi perdamaian, melainkan skenario terstruktur untuk mengosongkan wilayah tersebut dari warga Palestina dan menggantinya dengan permukiman warga Israel.
Prof. Hikmahanto Juwana mengidentifikasi empat pola yang ia sebut sebagai strategi sistematis Israel dan Amerika Serikat. Pertama, serangan militer besar-besaran yang telah menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina—mayoritas anak-anak—dan oleh dunia internasional disebut sebagai genosida. Kedua, evakuasi warga yang sakit dan terluka ke berbagai negara muslim dengan iming-iming solidaritas, termasuk Indonesia yang sempat menyatakan siap menerima 1.000 orang.
Ketiga, rekonstruksi Gaza dengan dana iuran negara-negara anggota BOP, namun tanpa jaminan hak kembali bagi warga Palestina. “Dibangun bagus, lalu harganya mahal. Orang Palestina tidak punya uang—lalu siapa yang beli? Warga Israel, bahkan disubsidi pemerintah Israel,” ujarnya.
Keempat, pengesahan undang-undang di Knesset (parlemen Israel) yang kini memperbolehkan warga Israel membeli tanah di wilayah yang sebelumnya dialokasikan khusus bagi warga Palestina di Tepi Barat.
“Kalau sudah seperti ini, dari Yordania sampai Gaza semuanya Israel. Itulah yang diinginkan Netanyahu,” kata Hikmahanto.
Ia juga menyoroti poin ke-19 proposal Trump yang menjanjikan referendum bagi warga Gaza setelah situasi kondusif. Menurutnya, “kondusif” baru akan terwujud setelah populasi Gaza didominasi warga Israel—sehingga hasil referendum sudah bisa diprediksi.






