Menu

Mode Gelap
Komentar Pengamat soal Alfamart dan Indomaret Harus Tutup karena Bisa Rugikan Kopdes BRICS atau Trump? Bukti Indonesia Kehilangan Orientasi Politik Luar Negeri Indonesia Ikut Melemah Seiring Penolakan MA Amerika atas Tarif Trump Perkuat Silaturahmi, Kedubes UEA Serahkan Simbol Tradisi dan Persahabatan di Masjid Al-Amin Kemenkeu Diplomasi Tarif Prabowo-Trump Gagal Total dan Konyol Proposal Trump untuk Gaza Dinilai Jebakan Manis

EKONOMI

Komentar Pengamat soal Alfamart dan Indomaret Harus Tutup karena Bisa Rugikan Kopdes

badge-check


					Foto: Adi Prayitno/tangkapan layar Perbesar

Foto: Adi Prayitno/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Pengamat politik Adi Prayitno mengomentari pernyataan dua menteri Kabinet Merah Putih yang meminta agar Alfamart dan Indomaret dihentikan operasionalnya setelah Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih mulai beroperasi. Menurutnya, yang dimaksud “distop” bukan berarti gerai-gerai tersebut ditutup, melainkan tidak boleh lagi berekspansi ke pelosok desa.

“Jangan sampai ada kesan bahwa yang disebut dengan stop itu seakan-akan retail-retail modern ini kemudian ditutup dan kemudian tidak berfungsi lagi,” kata Adi dalam kanal YouTube-nya yang diunggah Senin (23/2/2026).

Sebelumnya, Menteri Desa dan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyatakan dalam rapat bersama DPR bahwa Alfamart dan Indomaret perlu dihentikan karena dinilai sudah terlalu dominan dan meraup keuntungan yang luar biasa besar. Senada dengan itu, Menteri Koperasi Feri Juliantono berpendapat bahwa keuntungan dari gerai-gerai modern di daerah hanya mengalir ke pemilik modal di kota, bukan ke masyarakat setempat.

Adi mengingatkan bahwa kehadiran Alfamart dan Indomaret sejak awal pun sudah memicu kontroversi karena dinilai mengancam usaha-usaha kecil masyarakat dan UMKM di sekitarnya. Ia menyebut banyak aktivis saat itu mendorong pemerintah daerah untuk membatasi penyebaran kedua jaringan ritel tersebut.

Namun, Adi juga mengingatkan bahwa persaingan dalam sistem ekonomi tetap diperlukan. Tanpa kompetisi, menurutnya, tidak hanya monopoli yang menjadi ancaman, tetapi kualitas barang dan jasa yang tersedia pun akan menurun.

“Saya membayangkan Kopdes maju, Boomdes maju, termasuk juga retail-retail modern pun juga ada yang dianggap sebagai penyediaan untuk kebutuhan masyarakat juga. Karena ada kecenderungan di negara kita, kalau tidak ada kompetisi dalam sistem ekonomi, tidak ada yang menyaingi, bukan hanya terjadi monopoli, tapi kualitas penyediaan barang dan jasa itu tidak sebaik yang kita inginkan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Adi menekankan pentingnya regulasi yang mengatur persaingan secara adil dan kompetitif, tanpa merugikan masyarakat bawah. Ia juga mengingatkan agar pasokan kebutuhan di Kopdes benar-benar bersumber dari UMKM lokal, bukan dari oligarki bisnis yang selama ini mendominasi perekonomian nasional.

“Kopdes itu memang mulia, Kopdes itu memang baik, dan yang paling penting ekosistem ekonomi desa tumbuh,” pungkasnya, seraya mendorong pelaku UMKM di desa untuk lebih kreatif dan adaptif menyambut kehadiran Kopdes Merah Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Indonesia Ikut Melemah Seiring Penolakan MA Amerika atas Tarif Trump

24 Februari 2026 - 15:11 WIB

Mantan Dubes Indonesia untuk AS Kritik Pidato Prabowo di KTT BOP

23 Februari 2026 - 10:20 WIB

Pakar UI Bongkar Jebakan BOP: Indonesia Bukan Kuda Troya

23 Februari 2026 - 08:17 WIB

Populer POLITIK