INAnews.co.id, Jakarta– Setelah memberi waktu kepada pemerintahan Prabowo Subianto, budayawan Eros Djarot mulai menyuarakan kekhawatirannya. Ia menilai pemerintahan baru tidak mengubah fondasi buruk yang ditinggalkan rezim sebelumnya, bahkan terkesan mempertahankannya.
“Kalau pondasi bobrok itu dipertahankan, dibangun setinggi apapun ya itu-itu juga. Tidak akan berubah,” ujar Eros dalam wawancara bersama Abraham Samad, Ahad (22/2/2026).
Ia menggunakan metafora rumah untuk menggambarkan kondisi perpolitikan Indonesia dari waktu ke waktu—setiap pergantian rezim hanya mengganti jendela dan genteng, sementara fondasi yang rapuh dibiarkan tak tersentuh. Eros menyebut hal ini berlaku dari era Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi.
Kekhawatiran Eros semakin menguat ketika Prabowo secara terbuka menyatakan bertanggung jawab atas seluruh warisan pemerintahan Jokowi — termasuk utang yang kini diklaim telah menembus lebih dari Rp9.000 triliun—tanpa terlebih dahulu melakukan audit. “Diaudit dulu dong. Perkara mau dimaafkan, terserah. Tapi harus ada pertanggungjawaban,” tegasnya.
Perihal kunjungan Prabowo ke Washington yang menggunakan APBN tanpa penjelasan publik yang memadai juga turut disinggung. Eros mempertanyakan akuntabilitas presiden di hadapan rakyat yang membayar pajak.






