INAnews.co.id, Jakarta– Pengamat politik Muhammad Said Didu memperingatkan munculnya wacana berbahaya di kalangan kelompok yang telah kehilangan kepercayaan kepada Presiden Prabowo Subianto. Wacana itu berupa skenario “pura-pura bergabung” dengan kekuatan oligarki, lalu melakukan kudeta dari dalam.
“Sudah ada selentingan dari orang-orang yang tidak percaya lagi Prabowo. Menyatakan bagaimana kalau kita pakai taktis saja dulu — kita pura-pura bergabung sama geng Solo oligarki parcok, setelah itu kita kudeta lagi,” ungkap Said Didu di Forum Keadilan TV, Selasa (23/2/2026).
Said Didu mengaku merasa ngeri mendengar wacana itu. Ia menilai skenario tersebut sangat berisiko karena kekuatan oligarki memiliki sumber daya besar, uang melimpah, dan cengkeraman luas atas partai politik, penegak hukum, hingga daerah.
Ia juga memperingatkan bahwa kondisi ekonomi yang memburuk dan meningkatnya gerakan mahasiswa — seperti BEM UGM dan kampus-kampus lain — bisa dimanfaatkan oleh kekuatan oligarki untuk memicu ketidakstabilan.
“Ini bukan politik yang ditakutkan, ini sosial yang ditunggangi politik. Sama seperti sejarah 1966, 1974, 1998,” tegasnya.
Said Didu menilai momen ini adalah titik kritis bagi Prabowo. Ia menganalogikannya sebagai situasi to kill or to be killed — bukan lagi sekadar to be or not to be. Jika Prabowo lambat bertindak, gejolak sosial yang tidak terkendali bisa mengancam keutuhan negara itu sendiri.
“Bisa Pak Prabowo, Bapak perlu mengatakan bahwa negara bisa bubar kalau Bapak terlambat. Jangan sampai itu terjadi pada saat Bapak berkuasa,” katanya.






