INAnews.co.id, Jakarta– Pertemuan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Gatot Nurmantyo dan pengamat Muhammad Said Didu pada 15 Maret 2026 ternyata sempat memancing kecurigaan dari lingkaran dalam Istana. Said Didu mengungkapkan hal itu dalam wawancara yang ditayangkan di kanal YouTube jurnalis senior Edy Mulyadi, Senin (23/3/2026).
“Saya sempat dikontak, mempertanyakan mau apa JK,” ungkap Said Didu. Ia pun mengklarifikasi bahwa JK semata-mata tengah memikirkan bangsa dan ingin membantu pemerintah mencarikan solusi, bukan melakukan manuver politik.
Kecurigaan itu, menurut Didu, diperkuat oleh kehadiran Gatot Nurmantyo yang dikenal memiliki hubungan kurang harmonis dengan pemerintahan sebelumnya. Namun Didu membantah tafsiran itu. Ia justru menilai Gatot adalah tokoh oposisi yang paling loyal kepada Prabowo, dengan bukti nyata bersedianya Gatot menerima pilihan Gibran Rakabuming sebagai Wakil Presiden—sesuatu yang, menurut Said Didu, bahkan tidak bisa diterima oleh banyak tokoh lainnya.
Didu juga mengingatkan bahwa ada faksi di sekitar Prabowo yang sengaja memelihara narasi “musuh presiden” demi mempertahankan nilai dan posisi mereka di lingkaran kekuasaan. “Faksi ini hanya ada nilainya apabila bisa memberikan cap kepada orang baik bahwa dia adalah musuh,” tegasnya.






