INAnews.co.id – Dolar AS terus menguat dalam perdagangan di hari Kamis (04/10). Dampak membaiknya lapangan kerja AS semakin meyakinkan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Akibatnya, Rupiah semakin tertekan dan mendekati Rp.15.200 per dolar AS.
Pasca menembus level psikologis Rp 15.000/dolar AS, rupiah belum juga berhenti melemah. Terdesak hingga ke level 15.180/dolar AS dipasar spot. Greenback memang sedang berada dalam posisi yang kuat, ditunjukkan oleh indeks dolar AS yang melejit sebesar 0,33%. Bahkan dibandingkan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan Asia, Rupiah yang paling buruk kinerjanya. Secara berturut-turut melawan dolar AS di pasar spot, ringgit, baht, peso, dan rupee melemah masing-masing hanya melemah sebesar 0,24%, 0,43%, 0,2%, dan 0,41%.
Automatic Data Processing Inc. (ADP) menyatakan bahwa lapangan kerja di sektor non-pertanian periode September bertambah 230.000, mengalahkan proyeksi ekonom sebesar 185.000 saja. Kemudian data ekonomi lainnya, ISM Non-Manufacturing PMI periode September diumumkan di level 61,6, juga mengalahkan konsensus yang sebesar 58.
Positifnya data tersebut tak hanya mengonfirmasi bahwa perekonomian AS sedang melaju kencang, namun juga mengindikasikan bahwa perang dagang AS – China yang tengah bergejolak belum memberi dampak signifikan.
Pada akhirnya, persepsi mengenai kenaikan suku bunga acuan sebanyak 4 kali pada tahun ini oleh The Federal Reserve terus bisa dipertahankan di level yang tinggi. The Federal Reserve diyakini akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 4 kali pada tahun ini adalah sebesar 78,1%, jauh lebih tinggi dibandingkan posisi 1 bulan sebelumnya yang sebesar 70,1%.
Sementara itu, Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell, kembali melontarkan pernyataan yang hawkish. Powell mengungkapkan, The Fed tak lagi memerlukan kebijakan-kebijakan yang dulu digunakan untuk mengangkat perekonomian AS dari jurang krisis. Lebih lanjut, ia mengungkapkan tingkat suku bunga acuan secara bertahap akan dinaikkan menuju level netral.
“Suku bunga masih akomodatif, namun kami secara bertahap menuju tingkat yang netral,” papar Powell kemarin, seperti dikutip dari CNBC International.
Secara domestik, pelemahan Rupiah juga tak luput dari kekhawatiran akan melebarnya defisit transaksi berjalan. Ini terjadi sebagai konsekuensi dari tingginya harga minyak mentah dunia. Kini, harga minyak WTI kontrak pengiriman November bertengger di level US$ 76,16/barel. Sementara itu, harga minyak brent kontrak pengiriman Desember berada di level US$ 86,03/barel. Mahalnya harga minyak dunia memantik kekhawatiran bahwa defisit transaksi berjalan/current account deficit (CAD) Indonesia akan kian sulit diredam.
Memang, defisit perdagangan migas menjadi biang kerok lebarnya defisit neraca dagang Indonesia yang pada akhirnya membebani CAD. Secara kumulatif dari periode Januari-Juli 2018, defisit migas sudah mencapai US$ 8,35 miliar, melambung 54,6% dari capaian di periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 5,40 miliar. CAD Indonesia pada kuartal-II 2018 menembus level 3% dari PDB, yakni di level 3,04%. Padahal pada kuartal-I 2018, defisitnya hanya sebesar 2,21% dari PDB. Capaian ini terbilang cukup bersejarah. Pasalnya, kali terakhir CAD menyentuh level 3% dari PDB adalah pada kuartal-III 2014 silam.






