Menu

Mode Gelap
Ekonom Peringatkan Krisis Ekonomi 2026: Daya Beli Masyarakat Anjlok CWIG Nilai Pengunduran Diri Ketua OJK Mahendra Siregar, Tinggalkan Preseden Buruk Pada Masyarakat Peringati Anniversary Ke Empat VOID DK Jakarta Menggelar AnniVacation Ke Sukabumi Direktur Utama BEI Mengundurkan Diri usai Insiden Dua Hari Lalu Sidang TPPU Hasbi Hasan: Integritas Jaminan Hakim Bebas Intervensi Legitimasi Pemerintah 80 Persen Vs Demokrasi 20 Persen

INDAG

Emas Kembali Bersinar, Dibayangi Ketakutan Perang Dagang

badge-check


					Foto: emas batangan, dok. istimewa Perbesar

Foto: emas batangan, dok. istimewa

INAnews.co.id – Mengawali perdagangan minggu ini, harga emas menanjak naik. Kenaikan ini melanjutkan kinerja mingguan pada pekan lalu. Sayangnya tergelincir saat menutup perdagangan akhir pekan kemarin.

Kenaikan harga emas, selama sepekan kemarin didorong oleh sentiment beragam. Aksi Risk Aversion yang dilakukan oleh Investor untuk mencari aset surgawi memanfaatkan momentum singkat dari jatuhnya bursa saham global.

Pulihnya kembali pasar dalam hari-hari mendatang, akan kembali menjadi sentiment negatif bagi harga emas. Terbukti saat akhir pekan kemarin, dimana bursa saham AS menguat kembali paska penurunan sebelumnya, membuat harga emas berakhir di area negatif.

Harga emas sempat mundur dari level tertingginya karena kembali terjadi aksi beli di lantai bursa saham AS dan global setelah merosot tajam selama dua hari sebelumnya. Investor percaya diri dan melakukan risk appetite.

Logam Mulia mengalami koreksi $ 5,60, atau hampir 0,5%, ke harga $ 1,222 per troy ons, sehari setelah penutupan tertinggi logam mulia sejak 1 Agustus silam. Dalam sepekan, harga emas naik 1,4%. Ini merupakan kenaikan mingguan kedua berturut-turut.

Fluktuasi pasar saham baru-baru ini didukung oleh kekhawatiran atas naik cepatnyanya bunga Obligasi AS bertepatan dengan pelemahan dolar AS. Hal ini menghilangkan angin sakal harga emas yang menerpa sebelumnya.

Logam mulia cenderung menguat ketika dolar melemah karena aset menjadi relatif lebih menarik bagi pembeli yang menggunakan unit mata uang selain dolar. Pada hari Jumat (12/10), Indek Dolar AS, naik 0,2% pada 95,246, diperdagangkan sekitar 0,4% masih lebih rendah selama sepekan.

Sentimen negatif yang kuat masih mendominasi pasar adalah masalah suku bunga AS. The Federal Reserve kemungkinan akan menaikkan suku pada bulan Desember. Pertumbuhan ekonomi AS yang solid akan menjadi dasar langkah ini diambil bank sentral. Tentu saja, kenaikan ini akan membatasi penguatan harga emas lebih lanjut.

The Fed telah menaikkan suku bunga tiga kali tahun ini dan dapat melakukannya keempat kalinya sebelum akhir tahun. Ini akan menjadi seumber perlawanan terhadap harga emas untuk bisa naik kembali. Suku bunga yang naik, cenderung mendorong penguatan dolar AS dan membuat obligasi pemerintah ini juga bebas risiko investasi yang lebih menarik bila dibandingkan dengan emas batangan. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam

23 Januari 2026 - 23:35 WIB

Harga Beras Diprediksi Terus Naik Hingga Juni 2026, Program MBG Jadi Pemicu

23 Januari 2026 - 16:19 WIB

Ketergantungan Impor Indonesia pada China Capai 30 Persen, Diversifikasi Mendesak

23 Januari 2026 - 15:18 WIB

Populer INDAG