Menu

Mode Gelap
Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat di 34 Provinsi Bappenas: Danantara dan MBG Kunci Lepas dari Middle Income Trap Danantara Proyeksi Dongkrak PDB 3 Persen di Awal Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional

INDAG

Dolar AS Menguat, Harga Emas Menurun

badge-check


					Foto: emas, dok. Al Sattar Perbesar

Foto: emas, dok. Al Sattar

INAnews.co.id – Indek Dolar AS menyentuh posisi tertinggi baru di 95,543, naik 0,5%, setelah dalam risalah yang bernada hawkish tersebut FOMC mengisyaratkan kenaikan suku bunga akan harus terus dilakukan sampai kebijakan menjadi restriktif. Risalah ini sendiri terbit setelah penutupan perdagangan emas.

Meski risalah tersebut bernada hawkish dan mendorong kenaikan dolar AS, namun sejatinya hanya berdampak kecil terhadap perdagangan emas kali ini. Pasalnya, pelaku pasar telah mengantisipasi hasil pertemuan ini. Hingga tidak ada kejutan baik atau buruk yang akan menyebabkan reaksi berlebihan.

Harga emas bergerak turun dan menetap lebih rendah pada perdagangan hari Rabu (17/10). Jatuhnya harga saat ini telah memperpanjang penurunan mereka dalam perdagangan elektronik setelah indek dolar AS naik ke posisi tertinggi yang baru. Naiknya Dolar AS tak lama setelah diterbitkannya risalah pertemuan Komisi Pasar Bebas Federal (FOMC) bulan September.

Dalam perdagangan elektronik di hari Rabu, harga emas untuk kontrak pengiriman Desember, berada di $ 1,226.10 per troy ons. Kontrak ini telah kehilangan $ 3,60, atau 0,3%, untuk menetap di $ 1,227.40 per troy ons. Kontrak itu berakhir di hari Selasa pada harga $ 1.231, tertinggi sejak 31 Juli. Emas naik hampir 3% sejauh ini dibulan Oktober, memangkas penurunan year-to-date hingga mendekati 6% lebih. Sementara Dolar AS menguat dari tahun ke tahun di tengah pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve. Indek dolar AS naik 3,7% sejauh ini di 2018.

The Fed telah menaikkan suku bunga tiga kali tahun ini dan dapat melakukannya untuk keempat kalinya sebelum akhir tahun. Kenaikan ini dapat memberikan beberapa perlawanan terhadap harga emas. Kenaikan suku bunga cenderung membuat dolar menjadi kuat dan membuat obligasi pemerintah yang bebas risiko menjadi investasi yang lebih menarik, bila dibandingkan dengan emas batangan.

Sementara itu, pasar emas “sebagai aset surgawi” menunjukkan sedikit reaksi terhadap berita bahwa ahli antiterorisme Rusia sedang menyelidiki ledakan di kafetaria sekolah di Krimea Rabu pagi. Dilaporkan kejadian ini telah menewaskan sedikitnya 10 orang dan mencederai 50 lainnya, demikian menurut The Wall Street Journal.

Emas sedikit menguat dalam perdagangan sebelumnya, karena pasar global mengambil penurunan tajam. Hubungan AS dan Arab Saudi yang sempat terganggu, berbalik membaik setelah penghilangan dan dugaan pembunuhan seorang wartawan di konsulat Saudi di Istanbul.

Baik bursa saham dan emas sama-sama mengalami perdagangan yang volatile di tengah meningkatnya kekhawatiran atas naiknya suku bunga Obligasi. Naiknya suku bunga yang cepat juga bertepatan dengan kelemahan dalam dolar AS dan emas cenderung meningkat ketika dolar melemah karena aset menjadi relatif lebih menarik bagi pembeli menggunakan unit moneter lainnya.(Al Sattar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Target Pertumbuhan 5,4 Persen Sulit Tercapai, Konsumsi dan Kredit Melemah

5 Januari 2026 - 23:39 WIB

Paradoks Industri Nasional: Tumbuh tapi Tidak Serap Tenaga Kerja

31 Desember 2025 - 11:16 WIB

Cukai Rp20.000 Per Liter Hambat Daya Saing Bioetanol Indonesia

29 Desember 2025 - 20:58 WIB

Populer ENERGI