Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

INDAG

Bursa Saham Asia Berpotensi Ambrol

badge-check


					Bursa saham Asia, diperkirakan akan ambrol, mengikuti hasil perdagangan Wallstreet. (Al Sattar/ Foto Istimewa). Perbesar

Bursa saham Asia, diperkirakan akan ambrol, mengikuti hasil perdagangan Wallstreet. (Al Sattar/ Foto Istimewa).

INANews.co.id – Hasil perdagangan di bursa saham AS, dimana Dow Jones jatuh tajam dan menggiring Nasdaq ke zona koreksi, diperkirakan akan membuat bursa saham Asia juga turun pada Kamis (25/10).

Jatuhnya saham-saham teknologi, akan membuat Nikkei dan Kospi turun. Sementara sektor perbankan dan perdagangan umum akan membuat Hang Seng terkoreksi. Pada perdagangan di Wall Street, sektor teknologi turun dalam catatan terbesar sejak 2011, memusnahkan semua keuntungannya untuk tahun ini.

Indeks Nikkei Berjangka turun 2,7 persen dan menunjuk ke pembukaan bawah sekitar 600 poin untuk indeks Nikkei spot (N225). Indeks MSCI yang paling luas dari saham Asia Pasifik di luar Jepang tampaknya akan dimulai pada titik terendah sejak Maret tahun lalu.

Kejatuhan di saham-saham teknologi sebelumnya membuat para investor lari ke obligasi negara yang aman, dengan yields obligasi 10-tahun jatuh paling banyak sejak Mei hingga 3,11 persen. Muncul kekhawatiran bahwa pertumbuhan pendapatan perusahaan sudah memuncak. Sayangnya pertumbuhan global belum stabil, sehingga stimulus fiskal justru akan membebani pasar.

Kekhawatiran global termasuk meningkatnya tekanan internasional terhadap Arab Saudi atas kematian Jamal Khashoggi. Ditambah lagi ketegangan yang terjadi ketika polisi berhasil mencegah yang dicurigai sebagai bom surat yang dikirim ke mantan Presiden AS Barack Obama, Hillary Clinton dan para tokoh Demokrat lainnya, juga CNN, dan di cap sebagai tindakan terorisme.

Data yang lemah tentang manufaktur di Eropa menambah kegelisahan atas pertumbuhan dunia, seperti halnya penurunan yang mengejutkan dalam penjualan rumah AS yang menyarankan kenaikan suku bunga hipotek dapat mengurangi permintaan untuk perumahan.

Di Wall Street, prakiraan yang mengecewakan dari produsen chip menghantam sektor teknologi. Yang terkena dampak dari perkiraan mengecewakan pada hari Selasa adalah raksasa industri Caterpillar dan 3M. (Al Sattar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Target Pertumbuhan 5,4 Persen Sulit Tercapai, Konsumsi dan Kredit Melemah

5 Januari 2026 - 23:39 WIB

Paradoks Industri Nasional: Tumbuh tapi Tidak Serap Tenaga Kerja

31 Desember 2025 - 11:16 WIB

Cukai Rp20.000 Per Liter Hambat Daya Saing Bioetanol Indonesia

29 Desember 2025 - 20:58 WIB

Populer ENERGI