INAnews.co.id – Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan jika pertumbuhan ekonomi kreatif dan sumbangan Produk Domestik Bruto (PDB) yang dihasilkan dari industri ekonomi kreatif selalu di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Hal tersebut disampaikan Triawan Munaf dalam acaraDiskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dalam tema 4 Tahun Kerja Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang bertempat di Auditorium Gedung 3 Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa (23/10/2018).
Triawan memaparkan, sumbangan industri ekonomi kreatif terhadap (PDB) pada 2017 sudah mencapai Rp1.009 triliun dari Rp852,5 triliun pada 2015 sedangkan di tahun 2018 kontribusinya diperkirakan sekitar Rp1.105 triliun,
Serapan tenaga kerja atas industri kreatif pada tahun 2015 sudah menyerap 15,9 juta orang dan terus meningkat di tahun 2017 menjadi 17,4 juta orang, dan diramalkan pada tahun 2018 akan meningkat menjadi 18,1 juta orang.
“Kecepatan pertumbuhan tenaga kerja memang semakin menurun, tapi kualitasnya meningkat. Kami sadar ekonomi kreatif ini harus menumbuhkan jumlah tenaga kerja,” jelas Triawan Munaf.
Triawan juga menunjukkan ada tren konsumsi domestik untuk produk ekonomi kreatif terus meningkat dibandingkan pertumbuhan ekspornya. “Kita harus tingkatkan dulu konsumsi ekonomi di luar negeri agar kita bisa membentengi diri kita dari impor,” jelasnya.
Hal tersebut terlihat dari jumlah penonton film di Indonesia. Pada tahun 2016 sebanyak 16 juta orang menonton di bioskop dan di tahun 2017 meningkat pesat menjadi 42 juta orang.
“Ekonomi kreatif adalah model ekonomi baru yang berdasarkan pikiran dan gagasan yang menjadi tulang punggung Indonesia untuk di kemudian hari. Secara kualitatif bisa kita lihat ajang Asian Games, jika tidak ada pendekatan look and feel tidak akan indah seperti itu, lalu ekonomi kreatif semakin diminati oleh kaum milenial,” jelas Kepala Bekraf.
Oleh karena itu, sesuai tujuan pemerintahan Jokowi-JK, seperti yang diterangkan Triawan menjelaskan melalui kekuatan ekonomi kreatif Indonesia harus dilihat dunia memiliki keragaman budaya.
“Kita ingin menjadi leader di dunia, dalam merumuskan aturan dan kesepahaman dengan negara maju. Kami dari ekonomi kreatif akan mengadakan kongres ekonomi kreatif dunia di Bali. Kita harus bisa membuat konferensi yang baik dan suskes, tidak terbatas suku, agama, dan ras,” papar mantan produser dan musisi tersebut.
Sebagai contoh, industri ekonomi kreatif harus bisa menjadi penyeimbang antara dunia analog dan dunia digital. Seperti misalnya industri film bioskop tetap berkembang seiring dengan menonton dari digital. “Keduanya tidak saling membunuh namun tetap tumbuh bersama-sama,” jelas Triawan.
Basis dari industri ekonomi kreatif antara lain fesyen, kuliner, kerajinan, seni pertunjukan, periklanan, film, musik, animasi, games dan seni rupa,






