INAnews.co.id – Ini adalah minggu yang berat untuk mata uang crypto (cryptocurrency) karena harus kehilangan sebesar US$18 miliar atau Rp 273 triliun dalam beberapa hari. Meskipun diakhir pekanl lalu nampak mulai stabil pada Jumat (12/10)
Aset digital terbesar dan paling banyak dimiliki dunia, Bitcoin meluncur tajam sejak Rabu malam dan jatuh di bawah US$ 6.200 dalam sebulan. Bitcoin kemudian stabil dalam kisaran US$6.200 pada Jumat sore, mengakhiri catatan transaksi minggu lalu dengan turun sekitar 5%.
Mata uang crypto, bernasib lebih buruk. Eter, harus turun 12% dalam seminggu. Sementara Ripple turun 18% dalam tujuh hari. Bitcoin Cash turun 14%.
Hingga akhir pekan, nilai kapitalisasi pasar uang crypto menjadi US$201 miliar, turun dari US$219 miliar. Pasar telah berjuang untuk pulih ke mendekati puncak US$ 820 miliar sebagaimana di bulan Januari.
Aksi jual mulai melanda setelah beredar kabar bahwa perdagangan mata uang Bitfinex akan menangguhkan semua deposito dari mata uang fiat. Hal ini menimulkan ketakutan pasar. Investor dibayang-bayangi ketakutan akan kebangkrutan Bitfinex, meskipun ada pendapat bahwa bursa ini tidak bangkrut.
Sejumlah kabar positif dari Asia menjadi penyeimbang kejatuhan pasar. Regulator keuangan Korea Selatan dikabarkan akan mengumumkan sikap resmi terkait proses penawaran koin awal di bulan November nanti. Sementara itu, regulator di Singapura akan membantu perusahaan mata uang crypto yang ada untuk bisa mengatur rekening bank lokal, demikian menurut laporan dari Bloomberg.
Sebagian pelaku investasi di Bitcoin dan mata uang kripto lainnya, merasakan kekecewaan dengan kinerja minggu kemarin. Mereka berharap meraih keuntungan dari bitcoin sebagai penyimpan nilai, atau “emas digital”. Ketika bitcoin jatuh, disaat pasar saham AS juga turun sebanyak 1.300 poin dalam dua hari, aksi jual terbesar sejak Februari akan menjadi hantaman ganda bagi mereka. Ada pancaran ketidakpastian dari bursa saham yang memancar ke pasar mata uang Kripto. Akibatnya, ketakutan pun menyebar hingga mendorong aksi jual yang lebih besar.
Sejauh ini, Bitcoin masih beregrak dalam kisaran US$6.000 – US$8.000 sejak awal musim panas. Untuk bisa naik lebih tinggi, perlu dorongan kuat dari berita terkait Kripto yang positif. Sayangnya, justru malah berita sebaliknya yang beredar. Ada banyak sentimen negatif terhadap mata uang digital dari lembaga keuangan dan tokoh utama penting.
“Pertumbuhan cepat dari aset digital dapat menciptakan kerentanan baru dalam sistem keuangan internasional,” kata International Monetary Fund (IMF) dalam sebuah laporan baru-baru ini.
Regulator di seluruh dunia sedang mencari cara menangani mata uang digital dalam sudut pandangan yang berbeda-beda. Negara-negara seperti Swiss dan Uni Emirat Arab (UAE) berusaha untuk menjadi pusat bisnis cryptocurrency, sementara negara-negara lain seperti China sangat menghindar industri ini. Pada saat yang bersamaan, tahun ini ditandai peretasan cryptocurrency yang sangat tinggi dan sejumlah penipuan yang dilakukan pada saat penawaran perdana bitcoin.
Komisi Perbankan di Senat AS dalam sidang tentang peraturan pada minggu ini, menyampaikan kekhawatiran tentang kemungkinan untuk kasus-kasus penggunaan yang kejam seperti pencucian uang.
Bahkan ekonom yang memprediksi munculnya krisis keuangan tahun 2008, Nouriel Roubini menyebut mata uang kripto ini sebagai “ibu dari semua penipuan”. Dia menyebut kerugian 50% tahun ini sebagai “crypto-apocalypse.” Bukan tanpa alasan sebutan ini dilayangkan, pasalnya nilai kapitalisasi pasar dari mata uang crypto telah turun lebih dari 60%. (Al Sattar)






