Menu

Mode Gelap
Tips Jaga Kesehatan di Musim Hujan di Kota Semarang Menjaga Kesehatan di Musim Hujan: Tips Sehat di Tengah Ancaman Banjir Oknum Anggota TNI AL Terlibat Perkelahian di Talaud, Lanal Minta Maaf, Proses Hukum Berlanjut Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun

INDAG

Peternak ‘Tercekik’ karena kenaikan harga Jagung

badge-check

INAnews.co.id, Jakarta – Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Parjuni mengaku usaha Ternak yang dijalaninnya tercekik karena kenaikan harga pakan. Hal itu karena dari kenaikan harga jagung dan kelangkaan komoditasnya.

Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Sri Widayanti memberitahu produksi pakan ternak tahun ini diperkirakan mencapai 19,4 juta ton atau meningkat 6,59 persen jika dibandingkan dengan produksi tahun lalu yang sebanyak 18,2 juta ton.

Namun, ia melanjutkan kebutuhan atau permintaan jagung malah susut 16,67 persen dari 9,36 juta ton pada tahun lalu menjadi hanya 7,8 juta ton pada tahun ini.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Sumardjo Gatot Irianto menambahkan kebutuhan jagung untuk pakan ternak dan pakan lokal tahun lalu memang lebih besar dari 2018 ini. “Ada penurunan komposisi penggunaan jagung untuk pakan dari 50 persen menjadi 40 persen,” katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementan Syukur Iwantoro mengklaim terobosan yang dilakukan Kementan berhasil membuat pasokan jagung berlimpah. Harga pun disebutnya mulai turun.

“Mereka (petani dan peternak) tidak tahu informasi jagung sebenarnya ada. Ini masalah komunikasi dan distribusi saja. Harga mulai turun, jagung mulai ada. Jagungnya memang ada, tapi masalah komunikasi dan distribusi,” katanya.

Menanggapi hal itu, Parjuni mempertanyakan Kementan yang mengklaim surplus jagung. “Kalau kita ngomong surplus, otomatis harganya turun. Ini lucu, surplus, tapi harganya tinggi. Jadi, data di lapangan dengan di pemerintah kok beda,” ujar dia.

Ia selalu merinci setiap harinya kebutuhan jagung di Jawa Tengah bagi peternak dan produsen pakan mencapai 3.000 – 3.250 ton. Dari jumlah itu, pabrik produsen pakan ternak mendominasi kebutuhan sekitar 70 persen atau sekitar 2.000 ton per hari. Sedangkan, peternak membutuhkan 700 ton jagung.

“Klaim surplus itu hanya untuk Sulawesi saja. Karena Sulawesi memang produksi jagung lebih banyak. Sedangkan kebutuhan terbanyak justru di Jatim dan Jateng. Surplus di Sulawesi pun belum bisa memenuhi kebutuhan jagung di Jawa,” tegas Parjuni.

Menurut dia, harga jagung di pasar saat ini tembus Rp5.200 per kilogram. Jauh dari harga acuan Kementerian Perdagangan. Data Kemendag menyebut harga di tingkat konsumen untuk pembelian dan penjualan sekitar Rp4.000 per kg sesuai Permendag Nomor 27/M-DAG/PER/5/2017.

Dan akibat kelangkaan pasokan jagung, Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Herry Darmawan menuturkan pabrik pakan mulai menggunakan gandum impor sebagai bahan baku tambahan. Namun, kalangan peternak bertahan dengan jagung meskipun harganya selangit. 

“Berapa pun harga (jagung) akan dibeli oleh peternak. Jika terpaksa sekali mengurangi jagung, maka kualitas pakan jelek. Kalau kualitas pakan jelek, produksinya ikut turun,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam

23 Januari 2026 - 23:35 WIB

Harga Beras Diprediksi Terus Naik Hingga Juni 2026, Program MBG Jadi Pemicu

23 Januari 2026 - 16:19 WIB

Ketergantungan Impor Indonesia pada China Capai 30 Persen, Diversifikasi Mendesak

23 Januari 2026 - 15:18 WIB

Populer INDAG