INAnews.co.id – Rupiah memasuki pekan perdagangan baru dengan tidak bergairah karena investor memilih menunggu rapat kebijakan Bank Indonesia di hari Selasa (23/10). BI sudah meningkatkan suku bunga sebanyak lima kali sejak bulan Mei dan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 5.75%.
Menurut Lukman Otunuga, Analis dari FXTM, Rupiah adalah salah satu mata uang yang berkinerja paling buruk di sepanjang tahun berjalan, sehingga siklus pengetatan BI mungkin belum berakhir. Dari aspek teknikal, investor akan sangat memantau perilaku USDIDR di sekitar 15200.
Sementara itu, perkembangan situasi dagang AS-China kembali menjadi sorotan pasca laporan bahwa penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menuduh Beijing “tidak melakukan apa pun” untuk meredakan ketegangan dagang menjelang rapat G20 di Argentina bulan depan.
Perkembangan situasi ini bukan hanya mengurangi optimisme bahwa Amerika Serikat dan China akan menemukan jalan tengah, namun juga meningkatkan potensi bahwa AS tahun depan akan menambah tarif terhadap $200 miliar impor China dari 10% menjadi 25%.
Perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia menjadi ancaman besar terhadap pertumbuhan dan stabilitas global, sehingga sentimen saat ini sepertinya akan tetap rentan memburuk.
Para pelaku pasar sebaiknya juga memperhatikan perkembangan krisis anggaran Italia. Masalah anggaran Italia dengan Uni Eropa memasuki fase kritis di hari Senin karena Roma akan menghadapi tenggat waktu di siang hari untuk memberikan penjelasan mengenai mengapa Italia melanggar ketentuan fiskal Uni Eropa.
Anggaran 2019 pemerintah Italia mungkin ditolak oleh Uni Eropa di hari Selasa, sehingga Euro berpotensi untuk terkena dampak negatif. Ketidakpastian di Italia masih menjadi salah satu faktor geopolitik terbesar yang mengganggu sentimen global dan merusak keyakinan investor.
Bank Sentral Eropa (ECB) sendiri juga akan mengadakan pertemuan. Meski demikian, keyakinan terbesar adalah bank sentral ini tidak akan mengubah kebijakan moneter. Walaupun diprediksi tidak ada perubahan suku bunga, investor tidak boleh terlalu cepat menganggap rapat ini tidak berpengaruh apa-apa.
Mengingat ketidakpastian seputar situasi politik di Italia, konferensi pers Mario Draghi akan menyedot perhatian ekstra. Pemikiran Draghi mengenai perkembangan situasi Italia dan potensi dampaknya terhadap ekonomi Eropa akan menarik untuk dicermati.
Apabila pemimpin ECB ini bernada waspada dan dovish, Euro kemungkinan besar akan melemah. Dari sisi teknis, EURUSD kembali berada di atas 1.1520 pagi ini karena Dolar melemah. Bulls intraday dapat mengantarkan mata uang ini lebih tinggi lagi yaitu menuju 1.1580 di jangka pendek.
Sementara dari AS, perhatian pelaku pasar bisa ditujukan pada laporan pertumbuhan PDB Q3 AS. Risiko peristiwa utama di Amerika Serikat pekan ini adalah rilis pertama data PDB kuartal ketiga yang dijadwalkan pada hari Jumat ini. Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan meningkat 3.3% di kuartal ketiga tahun 2018, lebih lambat dibandingkan 4.2% di kuartal kedua.
Kejutan positif mengenai pertumbuhan PDB berpotensi meningkatkan sentimen beli terhadap Dolar dan mendukung ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga AS. (Al Sattar)






