Menu

Mode Gelap
Audit Ungkap 152 Nama dan Rp3,3 Miliar Kerugian Negara, Mengapa Hanya Enam Terdakwa Waspada Kudeta! Didu Ungkap Skenario Gelap Kelompok yang Tak Percaya Prabowo CELIOS: Perjanjian Dagang ART Indonesia-AS Serahkan Kedaulatan Ekonomi Bulat-bulat ke Amerika Pakar: Penetapan Adies Kadir Hakim MK Cacat Hukum dan Sarat Kepentingan Politik Hukum di Indonesia Disebut Hanya Tegak di Permukaan, Mafia tak Tersentuh Meragukan Arah Pemerintahan Prabowo: Pintu yang Sama dengan Jokowi

Uncategorized

Sewindu Pengembangan Kakao di Aceh, Hasil Panen Naik 71%

badge-check


					Petani Kakao Aceh (Foto Swisscontact) Perbesar

Petani Kakao Aceh (Foto Swisscontact)

INAnews.co.id – Program Produksi Kakao Berkelanjutan (SCPP) yang diinisiasi oleh Swisscontact, sebuah koalisi publik-swasta untuk mengembangkan sektor kakao berkelanjutan di Indonesia, telah  merampungkan kegiatan lapangan Provinsi Aceh pada Juni 2018.

Aceh telah menjadi bagian tonggak sejarah penting program pengembangan sektor kakao sejak 2010 saat Swisscontact melaksanakan Peningkatan Ekonomi Kakao Aceh/ PEKA. Kemudian program ini menyebar ke puluhan kabupaten lainnya di Pulau Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur.

Di Aceh, SCPP menjalankan kegiatan di 8 kabupaten yakni Aceh Tenggara, Aceh Timur, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Bireueun, Aceh Barat Daya dan Aceh Tamiang yang mencakup 738 desa dan 70 kecamatan. Hasilnya, sebanyak 20.184 petani telah dilatih dalam Praktek Budidaya Kakao Terbaik.

Bukan hanya dalam pengembangan pertaniannya saja, SCPP juga melakukan pemberdayaan masyarakat. Sejumlah program pelatihan dan praktik pengelolaan gizi keluarga, keuangan dan lingkungan hingga pengembangan usaha.

SCPP sendiri mendapatkan mandat dari Sekretariat Negara Swiss Bidang Ekonomi (Swiss State Secretariat for Economic Affairs/SECO) yang melakukan kerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia.

“Program ini mengikuti perkembangan kemajuan sektor kakao Indonesia selama pelaksanaannya bersama-sama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan. Selesainya kegiatan disini bukanlah akhir pengembangan sektor kakao. Swisscontact akan melanjutkan bantuan teknis berkelanjutan di Indonesia, ” dikatakan Christina Rini, Direktur SCPP di Banda Aceh (22/11).

Bersama dengan para mitra, SCPP telah memfasilitasi pembangunan rumah pembibitan seluas total 7.407 m2  serta 6,06 hektar kebun klon. Selain itu, kami melibatkan dan melatih 187 penyuluh serta 83 pelatih utama di seluruh wilayah kerja di 8 kabupaten di Provinsi Aceh.

Petani-petani yang telah dilatih tersebut sudah siap memasuki pasar yang lebih kompetitif yaitu pasar nasional maupun global. Upaya menghubungkan petani cokelat dengan pelaku industri akan terus dilaksanakan dan dilanjutkan oleh pemerintah daerah serta pemangku kepentingan yang ada.

Sebagai dampak pelaksanaan program, petani cokelat di Provinsi Aceh mampu meningkatkan hasil panen kakao dari 370 kg/Ha menjadi 635 kg/Ha atau meningkat 71,6%. Kenaikan produksi ini turut menaikkan pendapatan rumah tangga mereka. Komitmen lainnya dari program ini adalah mengurangi emisi efek Gas Rumah Kaca. Adopsi pertanian yang ramah iklim telah berhasil mengurangi jumlah emisi GRK sekitar 77% di seluruh area program. (Al Sattar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ironi Penegakan Hukum: Aktivis Literasi Diburu, Massa Penjarah Terorganisir Lolos

20 Februari 2026 - 18:46 WIB

Fatwa Pembiayaan Bermasalah Baru Ada untuk Murabahah

16 Februari 2026 - 22:38 WIB

Ikrar Nusa Bhakti Kritisi Anggaran Rp17 Triliun untuk BoP Trump

4 Februari 2026 - 09:42 WIB

Populer Uncategorized