INAnews.co.id – Dalam laporannya, Badan Pusat Statistik (BPS) hari Senin (03/12) menyatakan bahwa harga beras sebagaimana tahun lalu, akan naik dibulan Desember. Sementara menurut Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) mengisyaratkan adanya kenaikan harga jual industri makanan dan minuman sebesar 3-5% di tahun 2019.
Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, inflasi di bulan November 2018 sebesar 0,27%, turun tipis dari bulan sebelumnya sebesar 0,28%. Sektor transportasi, khususnya angkutan udara menyumbang inflasi terbesar di November tahun ini. Kondisi ini cukup berbeda dengan tahun lalu yang lebih dipengaruhi kenaikan harga bahan makanan.
“Harga beras di November 2017 rata-rata naik 0,62% secara bulanan sehingga sumbangannya ke inflasi 0,03%. Sementara November tahun ini [grosir dan eceran] naik rata-rata 0,70% sehingga sumbangannya sama,” jelas Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya.
BPS sendiri mencatat harga beras kualitas medium di tingkat penggilingan di bulan lalu senilai Rp 9.604/kg, naik 2,2% dibandingkan Oktober (month-to-month/mtm). Sementara itu, harga beras premium di penggilingan sebesar Rp 9.771/kg, naik 1,3%. Adapun harga beras kualitas rendah sebesar Rp 9.426/kg, naik 2,52%.
Menurut Suhariyanto, pada periode Oktober-Desember setiap tahunnya memang selalu terjadi kenaikan harga gabah karena memasuki musim tanam. Dengan suplai gabah yang menurun, tentu saja harga akan naik, diikuti oleh kenaikan harga beras.
“Di satu sisi bagi petani ini bagus karena NTP [nilai tukar petani] naik. Tapi kuncinya di tahun ini stok beras di Bulog cukup banyak. Tahun lalu stok Bulog hanya sekitar 800 ribu ton, sehingga kemampuan intervensi terbatas. Tahun ini, kalau bisa terus dilakukan Operasi Pasar, harga di konsumen akan tetap bagus,” jelasnya.
Suhariyanto menegaskan, keseimbangan harga beras yang terbaik adalah ketika petani dapat menjual gabah dengan harga yang tinggi ke penggilingan, namun beras dapat sampai ke tangan konsumen dengan harga yang tetap stabil.
“Sekarang naiknya tipis, itu wajar lah. Desember tahun lalu harganya naik tinggi sekali karena stok yang minim. Dengan stok yang ada tahun ini, saya harap tidak terjadi lagi,” pungkasnya.
Secara terpisah, Ketua Umum Gapmmi, Adhi Lukman menjelaskan, kenaikan ini didasari oleh fluktuasi pelemahan nilai tukar rupiah serta faktor biaya produksi lainnya seperti kenaikan upah tenaga kerja.
“Perkiraan saya awal tahun depan mau tidak mau kita harus mengkaji kenaikan harga 3-5%, tidak hanya karena pelemahan rupiah tapi juga biaya lain seperti UMP (Upah Minimum Provinsi),” kata Gapmmi dalam Pas FM Business Forum.
Adhi menambahkan, mayoritas industri menengah besar lebih memilih untuk tidak menaikkan harga di tahun ini. Sebaliknya, mereka lebih fokus mengejar omzet penjualan dengan margin keuntungan yang berkurang.
Terkait nilai tukar, dirinya mengharapkan nilai tukar rupiah dapat segera menemukan titik keseimbangan baru dan stabil, tidak seperti beberapa bulan terakhir. Adhi menilai Rp 14.500- Rp 15.000/US$ adalah level keseimbangan baru rupiah yang sesuai bagi kebutuhan industri mamin.
“Yang penting bagi kami stabilitas nilai tukar. Apakah rupiah menguat kita lebih baik? Belum tentu juga. Intinya jangan fluktuatif seperti saat ini karena akan mengganggu kinerja ekspor dan impor,” jelasnya.
Di tahun depan, Adhi memproyeksi industri mamin masih akan tumbuh konservatif di level yang sama seperti tahun ini yakni 8-9%. Menurutnya, Gapmmi belum melihat adanya program spesifik yang out of the box dari pemerintah untuk menggenjot industri.
“Kecuali nanti di akhir atau awal tahun ada program khusus, mungkin bisa tumbuh lebih tinggi. Kita juga belum melihat adanya program capres-cawapres yang detail. Itu sangat penting bagi kita,” pungkasnya. (Al Sattar)






