INAnews.co.id , Jakarta – Kementerian Perindustrian dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) sepakat menandatangani Nota Kesepahaman tentang Penyiapan SDM Industri Logam Melalui Pendidikan dan Pelatihan Industri.
Kolaborasi ini sejalan dengan program prioritas Making Indonesia 4.0, di antaranya membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sesuai perkembangan zaman dan permintaan pasar saat ini.
MoU diteken oleh Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar dan Managing Director PT IMIP Hamid Mina di Jakarta, Selasa (4/12/2018).
“Dalam kaitan mendorong pertumbuhan industri, ada tiga faktor utama yang menopang, yakni modal atau investasi, teknologi, dan SDM. Pembangunan SDM memang memerlukan waktu, maka itu harus butuh proses untuk menghasilkannya,” papar Haris.
Haris menjelaskan, ruang lingkup Nota Kesepahaman itu meliputi pelatihan industri baja berbasis kompetensi dengan sistem 3 in 1 yakni pelatihan, sertifikasi kompetensi dan penempatan kerja , serta dapat melakukan kegiatan lain yang disepakati kedua belah pihak. Masa berlaku MoU ini selama satu tahun sejak ditandatangani.
“Kami akan memfasilitasi pelatihan berbasis kompetensi tentang industri baja kepada 1000 calon tenaga kerja. Kami juga akan menyelenggarakan dan mengembangkan program vokasi industri logam, tuturnya. Sedangkan, pihak IMIP, akan menyiapkan profil kompetensi dan kebutuhan SDM di sektor industri logam” ujar Harris.
Haris menegaskan, Kemenperin terus memfasilitasi tumbuhnya unit pendidikan vokasi di kawasan industri.
“Upaya itu sebagai bagian program yang diminta oleh Bapak Presiden kepada Kemenperin. Jadi, diklat 3 in 1 yang dilaksanakan di setiap Politeknik atau Akademi Komunitas tidak hanya untuk program D2 sampai D3, tetapi juga untuk D1 yang dilaksanakan di perusahaan,” ungkapnya.
Guna menyiapkan tenaga kerja terampil, sejak tahun lalu, Kemenperin sudah menggandeng sebanyak 609 industri dan 1.753 SMK.
“Tantangan saat ini adalah industri sedang berkembang pesat, sementara SMK yang ada dari 14 ribuan, hanya 12-15 persen yang bisa jadi rujukan. Apalagi rata-rata peralatan praktik sudah tua dan kurikulum tidak sesuai lagi dengan dunia industri sekarang. Selain itu, dari 60 ribu guru SMK, hanya 20 ribuan yang produktif”, imbuhnya.
Untuk itu, lanjut Haris, pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi insentif nonfiskal bagi industri dalam menerima tenaga kerja terampil yang siap kerja.
Dari program vokasi yang sudah diluncurkan di enam wilayah, sebanyak 34 program studi sudah diselaraskan, serta guru-guru SMK dikirim magang di industri dan pelatihan ke luar negeri seperti Singapura.Selain itu Kemenperin pun memfasilitasi bantuan infrastruktur dan peralatan ke sejumlah SMK.
Kawasan Industri Morowali akan membutuhkan tenaga kerja langsung sebanyak 25 ribu orang dengan jenjang pendidikan D-III dan D-IV pada tahun 2025. Bahkan, kawasan yang sebagian besar diisi pabrik smelter berbasis nikel tersebut, diproyeksi mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 80 ribu orang.
“Saat ini, karyawan Indonesia yang sudah bekerja di Kawasan Industri Morowali mencapai 30 ribu orang. Sedangkan, tenaga kerja asing sekitar 3.200 orang yang rata-rata skill mereka digunakan di bagian produksi, karena teknologinya dibawa langsung dari China,” ungkapnya






