INAnews.co.id, Jakarta – Laba BNI meningkat sekitar 10,3% dibandingkan tahun 2017 yang mencapai Rp13,62 triliun.
Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengatakan, laba bersih tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan kredit yang disalurkan perseroan.
Pada 2018 total kredit yang disalurkan BNI mencapai Rp.512,78 triliun atau naik sekitar 16,2% year on year (YoY) jika dibandingkan pada 2017 tercatat Rp.441,31 triliun.
Pertumbuhan laba bersih BNI juga ditopang pertumbuhan pendapatan nonbunga sebesar 5,2% dari Rp11,04 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp11,61 triliun pada akhir 2018.
“Pertumbuhan pendapatan nonbunga tersebut didorong oleh peningkatan kontribusi fee dari trade finance, pengelolaan rekening, dan fee bisnis kartu,” kata Herry di Jakarta, kemarin.
Selain itu, pencapaian laba bersih BNI ini juga didukung dari membaiknya kualitas aset, ditunjukkan NPL Gross yang membaik dari akhir 2017 sebesar 2,3% menjadi 1,9% pada akhir 2018.
Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) tumbuh 11,0% dari Rp31,94 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp35,45 triliun pada akhir 2018. Dan NII tersebut menjadi sumber pertumbuhan laba bersih BNI yang utama.
BNI mencatatkan pertumbuhan return on equity (ROE) dari 15,6% menjadi 16,1%.
Pada akhir 2018, emiten BUMN ini juga mencatat total aset mencapai Rp808,57 triliun atau tumbuh 14,0% dibandingkan 2017 yang mencapai Rp709,33 triliun.
“Pertumbuhan aset BNI ini jauh melampaui pertumbuhan aset di industri perbankan yang mencapai 9,1% per November 2018,” katanya.
Di sisi lain, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 12,1% yoy, yaitu dari Rp516,10 triliun pada Desember 2017 menjadi Rp578,78 triliun pada Desember 2018.
“Penghimpunan DPK tersebut diiringi dengan menurunnya cost of fund dari 3,0% pada Desember 2017 menjadi 2,8% pada Desember 2018,” ucap Herry.
BNI berhasil menumbuhkan rasio dana murah (CASA) dari level 63,1% pada Desember 2017 menjadi 64,8% pada Desember 2018.
Perbaikan rasio dana murah ini tidak terlepas dari pertumbuhan giro sebesar 18,2% dan tabungan sebesar 13,0% yoy yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan deposito BNI, yaitu 6,7%.
Kredit BNI didorong pada segmen korporasi swasta tercatat sebesar 29,6% dari total kredit yang disalurkan. Kredit segmen korporasi swasta ini mencapai Rp151,71 triliun pada 2018 atau tumbuh 12,9%.
Kredit BNI juga tersalurkan ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar 21,6% dari total kredit. Untuk kredit pada segmen usaha kecil, BNI mencatatkan pertumbuh an sebesar 17,0% menjadi Rp66,06 triliun pada akhir 2018.






