Hal itu dikatakan seusai mengikuti panen jagung raya di Lamongan, Jawa Timur, Rabu (6/2/2019).

“Kita bisa lihat di lapangan, sepanjang jalan yang dilalui tadi pematang ditanami jagung. Itu menunjukkan jagung sedang menguntungkan untuk petani, ini jangan diganggu,” tegas Amran.

Target ekspor jagung sebesar 500 ribu ton tahun 2019 itu di atas realisasi ekspor tahun 2018 yang sebesar 380 ribu ton.

Laporan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Lamongan memperkirakan panen jagung di Kabupaten Lamongan hingga pekan ketiga Februari 2019 seluas 11.395 hektare.

Titik lokasi panen di antaranya di Kecamatan Modo, Bluluk, Ngimbang, Sambeng, Sukorame, Mantup dan Solokuro.

Luas lahan jagung di Kecamatan Modo sendiri 1.627 hektare yang dimiliki oleh beberapa kelompok tani dengan rata-rata kepemilikan 0,5 hektare per orang.

Sedangkan luas hamparan jagung di lokasi panen saat ini mencapai 496 hektare.

Harga jagung di tingkat petani saat ini untuk tongkol berkisar antara Rp. 2.000-2.200 per kg, pipil basah Rp 3.500 – 3.800 per kg, dan pipil kering Rp 4.800 – 5.000.

Amran menjelaskan bahwa di tahun 2018 memang masih ada impor jagung sebesar 100 ribu ton.

“Impor ini untuk industri pakan ternak yang tidak direalisasikan oleh pemilik alokasi” ujar Menteri Amran.

Alasannya, karena saat itu nilai dolar sedang tinggi-tingginya, sehingga petani memilih untuk membeli jagung lokal, meski dengan harga Rp5000 perkilogram.

“Ini mengakibatkan harga jagung terus naik, harga pakan naik, yang kemudian membuat peternak kesulitan,” katanya.

Ditambahkan oleh karena itu dilakukan impor agar petani tetap untung tapi peternak juga bisa tersenyum.

“Dengan melakukan ekspor 380 ribu ton dan impor 100 ribu ton pada tahun 2018, sebenarnya masih surplus,” tambah Amran.

Amran tegaskan  yang terpenting, sudah bisa stop impor jagung.

Ekspor jagung sebanyak 500 ribu ton, dipotensikan dari petani jagung yang berasal dari Gorontalo, Sumbawa dan Lamongan.

“Saat ini harga jagung berkisar Rp3.400 hingga Rp3.600 per kilogram. Namun karena memasuki panen raya, dalam dua hingga tiga minggu ke depan ada kekhawatiran harga hingga dibawah HPP,” katanya.