Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

POLITIK

Golput dan Apati Politik di Pemilu 2019

badge-check


					Golput dan Apati Politik di Pemilu 2019 Perbesar

INAnews.co.id, Jakarta – Menjelang Puncak Pesta Demokrasi 17 April 2019 salah satu perbincangan yang lagi menarik di ruang Publik adalah masalah Golput .

Apa sebenar nya Golput itu dan apa Dampak terhadap Pileg dan Pilpres 2019 .

Golput ( Golongan Putih ) adalah sikap tindakan dari Individu – individu atau kelompok – kelompok yang Tidak menggunakan hak suara nya dalam Pileg dan Pilpres .

Terminologi Golput itu menurut Chairudin Simatupang , Pengamat Kebijakan Politik dan Publik yakni harus total tidak memberikan suara dan tidak hadir dalam Pemilu Pileg dan Pilpres .

Menurut Chairudin faktor yang mendorong terbentuknya golput yaitu ;

  1. Individu – individu atau Kelompok – kelompok dalam masyarakat yang mempunyai kekecewaan serta beban traumatik masa lalu terhadap peristiwa tertentu yg dialami dan masalah nya tidak bisa diselesaikan oleh Pemerintah – Pemerintah sebelum nya maupun Pemerintah yg sedang berkuasa.
  2. Masalah Administrafif karena faktor geografis . Infrastruktur birokrasi yg tidak simpel .
  3. Individu – individu atau sekelompok orang merasa bahwa Pemilu itu tidak ada kaitan nya dengan mereka. Exstrim nya Pemilu itu siapa pun yang jadi Pemenang nya tidak akan berdampak apa – apa buat mereka. Sikap Pesimistis ini tentu tidak terjadi secara spontan secara empirik ini adalah labeling mikro massage protes yang “terpendam dibawah Tilam ” terhadap keadaan dan status sosial mereka .
  4. Adanya Individu dan kelompok masyarakat yang merasa mempunyai kemampuan konsep akademik tapi tidak pernah ” di Wongi ” terlebih dipakai.
  5. Kelompok ini bisa dikatagorikan sebagai Pressure Group yang kecendrungannya insting nya dengan argumen – argumen yang mereka bangun mengajak masyarakat membentuk barisan Golput secara lebih masif .
  6. Para Pengamat dan penggiat kemanusian yang cendrung mempunyai sikap Oposan Mentality . Kelompok yang terbiasa di jejali oleh paham idealisme Humanis secara sempurna yang tidak bisa mentolerir keadaan seperti ini.

Golput itu sebenar nya tidaklah berbahaya dan menimbulkan masalah bagi sebuah Sistim politik dan terlebih tidak bisa menjadi barometer Demokratis tidak nya sebuah Negara.

“Karena memberikan suara pada Pemilu itu adalah bentuk tingkatan Partisipasi politik terendah , terlemah dari berbagai bentuk tingkatan Partisipasi Politik,” tulis Chairudin.

Diungkapkan lagi olehnya bentuk partisipasi Politik Tertinggi adalah ” Menduduki Jabatan politik
Dalam sebuah negara.”

“Tapi  yang paling Berbahaya dalam sebuah Sistim politik dan Kehidupan sebuah negara adalah adanya Apati Politik,” ucap Chairuddin.

APATI POLITIK

Apati politik adalah sikap Pesimistis tidak mau peduli lagi apa – apa yang dilakukan oleh Pemerintah . Masyarakat cendrung melakukan dan menyelesaikan masalah kehiduoan mereka dengan cara sendiri sendiri .

“Street Justice adalah salah satu contoh nya  dari Apati politik terjadi bila masyarakat merasa Negara Alfa tidak hadir untuk mewujudkan Kewajiban dasarnya bagi masyarakat yaitu sanadang , pangan , papan dan keamanan,” jelasnya.

Indikasi awal akan adanya Apati politik masyarakat ditandai munculnya kelompok – kelompok dalam masyarakat yg dikenal sebagai politik Identitas baik dalam bentuk Corak Keagamaan , Kedaerahan maupun dalam Bentuk kelompok sosial .

SOSIALISASI POLITIK

Stimulus dosis yang tepat agar masyarakat melakukan partisipasi politik tentunya dengan memenuhi Kebutuhan Dasar masyarakat dan melakukan sosialisasi Politik secara terus menerus kepada Masyarakat.

“Pemerintah dan semua Partai politik harus menyakinkan masyarakat dengan Narasi dan Diksi – diksi yang simpel dan mudah dicerna oleh masyarakat bahwa melakukan partisipasi politik adalah hal yang sangat urgen dalam kehidupan bernegara karena semua aspirasi dan kehendak dari masyarakat akan terserap dan di realitas kongkritkan dalam sistim politik yg dianut dan di jalankan,” jelasnya lagi.

Ditambahkan lagi oleh Chairuddin agar menuju tujuan Negara Indonesia yang sesungguh nya bisa di wujudkan tanpa basa – basi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

9 Januari 2026 - 10:11 WIB

AS Terapkan Imperialisme Baru dan Ancam Stabilitas Global Tangkap Maduro

9 Januari 2026 - 07:36 WIB

Populer POLITIK