INAnews.co.id, Demak– Sepanjang 2018, ekspor TPT nasional diproyeksi mencapai USD13,28 miliar atau naik 5,6 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Industri TPT juga telah menyerap tenaga kerja sebanyak 3,58 juta orang atau 21,2 persen dari total tenaga kerja di sektor manufaktur.
industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Sektor padat karya berorientasi ekspor ini mampu menunjukkan pertumbuhan yang gemilang sebesar 8,73 persen pada tahun 2018 atau melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,17 persen.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meyakini, adanya perang dagang Amerika Serikat dan China, membuka peluang bagi sektor manufaktur di Indonesia.
Contohnya, industri TPT di Jateng dapat meningkatkan kapasitas produksinya guna mengisi pasar ke dua negara tersebut.
“Apalagi Indonesia juga akan tanda tangan CEPA dengan Australia di bulan Maret, sehingga dengan demikian potensi ekspor Indonesia untuk produk tekstil, pakaian, dan alas kaki akan semakin tinggi,” papar Airlangga di Demak, Jawa Tengah, Kamis (28/2/2019).
Sebab menurutnya sebelumnya kita dikenakan bea masuk 20 persen. Kalau nanti sudah jadi nol persen, maka lapangan kerja pun akan ikut terbuka seiring pertumbuhan industri terkait.
Airlangga optimistis, di tengah ketidakstabilan ekonomi global, pertumbuhan industri manufaktur nasional diproyeksi sebesar 5,4 persen pada tahun 2019.
Sektor-sektor yang akan menopangnya, antara lain industri makanan dan minuman dengan target pertumbuhan 9,86%, permesinan (7%), tekstil dan pakaian jadi (5,61%), serta kulit barang dari kulit dan alas kaki (5,40%).
“Industri manufaktur selama ini konsisten menjadi kontributor terbesar bagi perekonomian nasional, di antaranya melalui sumbangsih ke PDB lebih dari 19 persen, kemudian pajak 30 persen, dan ekspor mencapai 72 persen. Selain itu, manufaktur juga menyerap tenaga kerja hingga 18,2 juta orang,” ungkapnya.






