Menu

Mode Gelap
Genangan Air Pascabanjir terhadap Kesehatan Warga dan Tips Sehat Usai Banjir Tips Jaga Kesehatan di Musim Hujan di Kota Semarang Menjaga Kesehatan di Musim Hujan: Tips Sehat di Tengah Ancaman Banjir Oknum Anggota TNI AL Terlibat Perkelahian di Talaud, Lanal Minta Maaf, Proses Hukum Berlanjut Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan

SOSIAL

Berantas Malaria, Pemkab Rote Ndao Gelar Malaria Advocacy Meeting

badge-check


					Berantas Malaria, Pemkab Rote Ndao Gelar Malaria Advocacy Meeting Perbesar

INAnews.co.id, Jakarta – Dalam rangka memberantas penyakit malaria di Kabupaten Rote Ndao, Pemkab menggelar Malaria Advocacy Meeting pada Senin, 27 November 2023.

Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan dari Dinas Kesehatan, Bappelitbangda Provinsi NTT, FKM UNDANA, UNICEF, dan PPNI Provinsi NTT.

Dalam sambutannya, Bupati Rote Ndao Paulina Haning Bulu menyampaikan rasa syukur atas kehadiran para peserta dan mengapresiasi dukungan serta komitmen mereka dalam memajukan sektor kesehatan di Kabupaten Rote Ndao.

Bupati Rote Ndao menyatakan bahwa penyakit malaria masih menjadi masalah serius yang mempengaruhi kualitas sumber daya manusia dan berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan.

Bupati menyoroti target eliminasi malaria di Kabupaten Rote Ndao yang harus mundur dari tahun 2025 karena adanya kasus Indegenus pada tahun 2022 dan 2023.

Hingga November 2023, telah terjadi 24 kasus malaria dengan 2 kasus kematian di Desa Nusakdale, Kecamatan Pantai Baru.

“Saya ingin menegaskan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao untuk bertindak cepat dan berkolaborasi dengan lintas sektor guna mencegah terjadinya kasus Indegenus Malaria dan kematian akibat penyakit ini di masa mendatang,” ujar Bupati.

Vince Bimas Panggula, Perencana Ahli Madya Bappelitbangda Provinsi NTT, menyoroti perlunya dukungan hukum yang jelas dalam RPJMD perubahan untuk penanggulangan malaria.

Ia menekankan peran Bappelitbangda sebagai leading sektor yang mengkoordinasikan lintas sektor untuk berperan sesuai dengan tupoksi masing-masing.

Selain itu, Ishak Iskandara Radja dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT memberikan penjelasan terkait temuan di lapangan.

Kasus kematian di Desa Nusakdale menunjukkan adanya aspek teknis kesehatan dan faktor lain, seperti kepercayaan masyarakat pada ilmu hitam dan keterlambatan menuju rumah sakit.

Dalam upaya penanganan, Dinas Kabupaten telah bergerak dan mendistribusikan logistik ke desa terdampak. Tim lintas sektor akan turun dalam siklus berikutnya untuk memastikan efektivitas pemeriksaan dan penanganan.

“Kami harapkan setiap penderita malaria meminum obat secara teratur karena obat tersebut disediakan secara gratis. Keterlibatan masyarakat dan pemahaman akan pentingnya pengobatan yang tepat sangat dibutuhkan dalam upaya eliminasi malaria di Kabupaten Rote Ndao,” tutup Ishak.

 

 

 

Reporter : Dance Henukh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Butuh Alat Berat Lebih Banyak untuk Bersihkan Lumpur di Aceh Tamiang

23 Januari 2026 - 05:34 WIB

Menjaga Hutan dari Penggundulan untuk Mencegah Banjir Bandang

22 Januari 2026 - 20:27 WIB

Menjaga Selokan, Langkah Sederhana Mencegah Banjir di Permukiman

22 Januari 2026 - 20:17 WIB

Populer SOSIAL