Menu

Mode Gelap
Audit Ungkap 152 Nama dan Rp3,3 Miliar Kerugian Negara, Mengapa Hanya Enam Terdakwa Waspada Kudeta! Didu Ungkap Skenario Gelap Kelompok yang Tak Percaya Prabowo CELIOS: Perjanjian Dagang ART Indonesia-AS Serahkan Kedaulatan Ekonomi Bulat-bulat ke Amerika Pakar: Penetapan Adies Kadir Hakim MK Cacat Hukum dan Sarat Kepentingan Politik Hukum di Indonesia Disebut Hanya Tegak di Permukaan, Mafia tak Tersentuh Meragukan Arah Pemerintahan Prabowo: Pintu yang Sama dengan Jokowi

PENDIDIKAN

Indonesia Paling Rendah Anggarannya untuk Riset

badge-check


					Foto: Gamal Albinsaid (politisi PKS), dok. ist Perbesar

Foto: Gamal Albinsaid (politisi PKS), dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia adalah negara dengan rasio penganggaran riset terhadap PDB paling rendah, yaitu 0,24 persen. Itu disampaikan Anggota DPR dari PKS, Gamal Albinsaid yang mengutip laporan R&D World tahun 2022.

“Negara yang paling tinggi adalah Israel dengan 4,8%. Indonesia peringkat 34 dengan 8,2 milyar USD,” ungkapnya lewat akun X-nya, Rabu (8/1/2025).

“Sebagai gambaran, negara lain US 679,4 milyar USD, China 551,1 milyar USD, Jepang 182,2 milyar USD. Dimana anggaran riset global meningkat 5,43%,” tambahnya.

Standar UNESCO dan World Bank menyatakan negara dengan PDB besar menganggarkan 1 persen dari PDB untuk riset.

“Jika kita merujuk pada data BPS, dimana PDB atas dasar harga berlaku adalah 19,58 kuadriliun. Dengan demikian, dana riset kita seharusnya 195,8 triliun,” ungkapnya lagi.

Selain itu kata dia, kita bisa belajar dari Cina. Dimana dosen menggunakan 70 persen waktunya untuk riset dan sisanya untuk mengajar sehingga mereka bukan hanya menghasilkan lulusan saja tetapi juga menghasilkan ilmu pengetahuan.

“Perusahaannya mengalokasikan 20-30% SDM untuk riset,” katanya.

Di Indonesia malah kata dia, kita saksikan banyak pengajar berada dalam penjara administrasi. Pemasukan kampus berasal dari input mahasiswa, bukan dari riset yang digunakan industri sehingga banyak civitas akademika menjadi sales mahasiswa.

“Dalam hal keberpihakan, kita harus memprioritaskan dosen untuk mendapatkan beasiswa S3. Karena mereka jelas pengabdian dan kontribusinya bagi Indonesia,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Waspada Kudeta! Didu Ungkap Skenario Gelap Kelompok yang Tak Percaya Prabowo

25 Februari 2026 - 20:45 WIB

CELIOS: Perjanjian Dagang ART Indonesia-AS Serahkan Kedaulatan Ekonomi Bulat-bulat ke Amerika

25 Februari 2026 - 18:45 WIB

Pakar: Penetapan Adies Kadir Hakim MK Cacat Hukum dan Sarat Kepentingan Politik

25 Februari 2026 - 16:05 WIB

Populer POLITIK