Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

POLITIK

Polemik PDIP-PSI Disorot Pengamat: Ada Tensi

badge-check


					Foto: dok. Suara Nusantara Perbesar

Foto: dok. Suara Nusantara

INAnews.co.id, Jakarta– Dinamika politik Indonesia kembali memanas, menyoroti relasi tak kunjung usai antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Meskipun Kongres PSI telah usai dan Kaesang Pangarep resmi menjabat Ketua Umum, kritik pedas dari sejumlah politisi PDIP justru menguak tensi yang masih menyelimuti kedua partai.

Pengamat politik Adi Prayitno menganalisis polemik ini, menyebutnya sebagai isu politik yang kian trending dan tak berkesudahan.

Kritikan paling menonjol datang dari Guntur Romli, politisi PDIP, yang menyamakan proses suksesi kepemimpinan PSI seperti “sepak bola gajah”. Istilah ini merujuk pada dugaan manipulasi skor dalam pertandingan Indonesia vs. Thailand di Piala Tiger 1998, di mana hasil diatur untuk menghindari lawan tertentu. Menurut Guntur, terpilihnya Kaesang sebagai Ketua Umum PSI sudah sangat dapat diprediksi, terlepas dari adanya pemilihan langsung dan e-voting.

“Judulnya saja ada pemilihan secara langsung, ada e-voting dan seterusnya,” ujar Guntur Romli, seperti dikutip Adi Prayitno lewat akun YouTube-nya, kemarin. “Sebenarnya Ketua Umum PSI itu yang sudah sangat predictable terpilih sebagai Ketua Umum one and only hanyalah Kaesang, bukan yang lain.”

Guntur Romli juga mempertanyakan klaim PSI sebagai partai yang bukan milik keluarga atau elit tertentu. Ia menyoroti Kaesang yang berasal dari keluarga Jokowi, mantan Presiden Republik Indonesia. Senada dengan Guntur, politikus PDIP lainnya, Arya Bima, menyindir konsep ‘partai terbuka’ PSI. “Percuma PSI itu bicara tentang partai terbuka kalau ketumnya Kaesang dan Ketua Dewan Pembinanya adalah Pak Jokowi,” tegas Arya Bima.

Menanggapi gelombang kritik ini, Cheryl Tansil, Ketua DPP PSI, menyatakan bahwa partainya akan mendengarkan masukan dari senior PDIP. Namun, di balik itu, tersirat sindiran halus. “Sepertinya Cheryl ini ingin memberikan sindiran secara halus juga apa yang disebut dengan partai terbuka versi PDIP. Sepertinya Cheryl ingin bilang, bagaimana mungkin juga PDIP itu bisa menyebut dirinya sebagai partai terbuka karena di partai ini juga banyak keluarga-keluarga kuat yang ada di dalamnya,” papar Adi Prayitno.

Juru bicara PSI lainnya juga memberikan bantahan tidak eksplisit, menegaskan bahwa “gajah tidak suka keributan, tidak suka huru-hara, dan lebih mementingkan kinerja.”

Menurut Adi Prayitno, inti dari isu ini adalah konfirmasi bahwa konflik politik antara PDIP dan PSI belum selesai. Ini merupakan efek lanjutan dari ketegangan politik antara Jokowi dan PDIP saat Pilpres 2024, di mana Jokowi memilih mendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, dan PSI pun turut berlabuh pada pilihan yang sama. “Maka tidak mengherankan ketika ada suksesi kepemimpinan pemilihan ketua umum yang ada di PSI itu juga diberikan kritik secara terbuka oleh sejumlah elit-elit PDIP,” jelas Adi.

Dinamika ini semakin menarik karena Presiden Jokowi secara terbuka menegaskan akan mendukung penuh PSI dan berjanji akan bekerja keras membesarkan partai tersebut. “Ini tentu semacam genderang perang politik yang sengaja memang dimunculkan ke publik bahwa PSI itu jangan lagi diremehkan, bahwa di masa-masa yang akan datang PSI itu akan dipersiapkan menjadi partai yang cukup kompetitif,” terang Adi Prayitno.

Jika Jokowi benar-benar terlibat aktif dalam membesarkan PSI, ketegangan dengan PDIP hampir dapat dipastikan tidak akan terhindarkan dan akan terus berlanjut. “Segala sesuatu yang ada PDIP, segala sesuatu yang ada Jokowi, segala sesuatu yang ada PSI, karena PSI ini sangat identik dengan Jokowi, apalagi ketua umumnya adalah Kaesang, pastilah terjadi friksi-friksi dan gonjang-ganjing yang tidak bisa dihindarkan,” tambahnya.

Meski demikian, Adi Prayitno menegaskan bahwa kritik dari Guntur Romli dan Arya Bima saat ini belum bisa diklaim sebagai sikap resmi kelembagaan PDIP. Ia melihatnya sebagai sikap politik individual terkait isu-isu yang berkembang di PSI.

Namun, satu hal yang pasti, perdebatan dan polemik antara PDIP dan PSI diprediksi akan terus berlanjut, terutama karena identitas PSI yang kini begitu lekat dengan sosok Jokowi. Konflik ini, menurut Adi Prayitno, seakan takkan berkesudahan dan akan terus menjadi sorotan publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

9 Januari 2026 - 10:11 WIB

Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

9 Januari 2026 - 08:39 WIB

Populer NASIONAL