Menu

Mode Gelap
Hukum di Indonesia Disebut Hanya Tegak di Permukaan, Mafia tak Tersentuh Meragukan Arah Pemerintahan Prabowo: Pintu yang Sama dengan Jokowi MBG Mulia tapi Rawan Bocor, Budayawan Minta Audit Terbuka Haidar Ungkap Lima Pasal Krusial Dalam Perjanjian Dagang Indonesia dan Amerika Serikat Presiden Prabowo Saksikan Kemitraan Danantara–Arm, Indonesia Percepat Lompatan Industri Semikonduktor Eros Djarot: Peradaban Bangsa Dirusak di Era Jokowi

NASIONAL

Haidar Alwi: Fenomena Bendera One Piece Adalah Alarm, dan Sufmi Dasco Ahmad Sudah Menyalakannya

badge-check


					Haidar Alwi: Fenomena Bendera One Piece Adalah Alarm, dan Sufmi Dasco Ahmad Sudah Menyalakannya Perbesar

INAnews.co.id,  Jakarta  –  R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, menyatakan bahwa fenomena pengibaran bendera bajak laut One Piece di tengah perayaan kemerdekaan bukan sekadar tren anak muda, melainkan alarm budaya yang tak boleh diabaikan. Ia memandang sikap tegas Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad sebagai upaya sadar untuk menjaga makna simbol kemerdekaan. “Ini bukan soal suka atau tidak suka anime, tapi soal arah imajinasi kolektif bangsa. Dan ketika simbol asing berdiri menggantikan sang Merah Putih, kita tidak sedang baik-baik saja,” ujarnya.

Simbol Bukan Sekadar Gaya, Tapi Cermin Nilai Bangsa.

Menurut Haidar Alwi, simbol adalah fondasi tak terlihat dari bangunan kebangsaan. Setiap bendera, lambang, dan ikon membawa muatan nilai yang membentuk cara pandang generasi. Ketika bendera Jolly Roger, yang identik dengan bajak laut dalam serial fiksi, dikibarkan dalam momen nasional seperti HUT RI, maka ada dua hal yang patut dicermati: pertama, kebingungan makna di kalangan anak muda; dan kedua, kelengahan kolektif dalam menjaga identitas.

Haidar Alwi menilai bahwa banyak masyarakat belum memahami bagaimana budaya populer bisa menjadi jalur masuk bagi pergeseran ideologi. “Simbol itu bahasa nilai. Kita tidak bisa anggap netral ketika bendera fiksi mulai mengambil alih tempat sakral dalam ruang publik,” jelasnya. Ia mengingatkan bahwa pertarungan ideologi di era digital bukan lagi berlangsung lewat propaganda keras, tapi lewat tontonan, estetika, dan simbol yang dianggap remeh.

Keberanian Dasco Adalah Bentuk Kewaspadaan Awal.

Haidar Alwi menyebut langkah Sufmi Dasco Ahmad sebagai bentuk kewaspadaan yang seharusnya ditiru banyak pemimpin. Ketika Dasco menyebut ada indikasi sistematis dalam fenomena ini, ia tidak sedang mencari sensasi, melainkan berusaha melindungi makna nasionalisme dari pelunturan yang samar namun membahayakan. “Tidak mudah bersuara di tengah dominasi budaya global. Tapi justru itulah perlunya keberanian moral. Dan saya menilai Pak Dasco sudah menunjukkannya,” ujar Haidar Alwi.

Ia menambahkan, banyak elite politik hari ini terlalu fokus pada isu besar yang viral, tapi abai terhadap isu kecil yang merusak dari dalam. Padahal, justru hal kecil seperti simbol, bahasa, dan visualisasi publik itulah yang membentuk arah psikologi kolektif. “Kita bisa kehilangan orientasi jika simbol-simbol bangsa mulai digantikan oleh tokoh-tokoh asing yang tidak merepresentasikan nilai-nilai kita,” tegasnya.

Solusi: Bangun Imajinasi Nasional, Bukan Hanya Melarang.

Meski mengapresiasi kewaspadaan terhadap simbol asing, Haidar Alwi juga mengingatkan bahwa solusi tidak cukup dengan melarang atau mencela. Yang lebih penting adalah membangun rasa bangga terhadap simbol bangsa melalui pendekatan kreatif, edukatif, dan inspiratif. Ia mendorong lahirnya karakter fiksi lokal yang kuat, film nasionalis berkualitas, dan konten budaya digital yang mampu menandingi daya tarik budaya luar.

“Kita tidak boleh hanya jadi pasar simbol. Kita harus mulai memproduksi imajinasi sendiri. Kalau Jepang punya Luffy, kenapa Indonesia tidak bisa punya karakter pahlawan lokal yang digemari dunia?” ungkapnya.

Menurut Haidar Alwi, generasi muda tidak salah karena menyukai anime, tapi negara akan salah jika tidak menyediakan alternatif yang membanggakan.

Ia menegaskan bahwa peringatan Dasco harus dijadikan titik tolak pembenahan, bukan polemik. Sebab bangsa besar tidak hanya mempertahankan tanahnya, tapi juga imajinasi anak-anaknya. “Kalau simbol negara bisa digeser oleh simbol fiksi, maka arah berpikir bangsa ini akan digiring tanpa sadar,” katanya lagi.

Haidar Alwi menekankan bahwa menjaga Merah Putih bukan sekadar soal ketaatan hukum, tetapi soal kesadaran kolektif untuk mempertahankan makna. “Dalam dunia yang serba cepat ini, kita butuh pemimpin yang tidak hanya melihat apa yang terjadi, tapi memahami arah ke mana kita dibawa. Dan saya melihat peringatan Pak Dasco sebagai suara yang menyalakan alarm tepat waktu,” pungkas Haidar Alwi.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

BRICS atau Trump? Bukti Indonesia Kehilangan Orientasi Politik Luar Negeri

24 Februari 2026 - 17:12 WIB

Diplomasi Tarif Prabowo-Trump Gagal Total dan Konyol

23 Februari 2026 - 18:48 WIB

BPJPH: Standar Halal Indonesia dan Amerika Sama-Sama Standar Internasional

23 Februari 2026 - 14:43 WIB

Populer GLOBAL