Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

GAYA HIDUP

Kepentingan Publik Dipertaruhkan dalam Negosiasi Final Perjanjian Global tentang Polusi Plastik

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Jenewa– Sesi kelima perundingan Intergovernmental Negotiating Committee bagian kedua (INC-5.2) secara resmi dimulai di Jenewa dan akan berlangsung hingga 14 Agustus. Pertemuan ini digadang-gadang menjadi putaran terakhir dalam merumuskan perjanjian baru yang mengikat secara hukum untuk mengatasi polusi plastik di seluruh siklus hidupnya.

Negosiasi final ini diadakan di Kantor PBB Jenewa (UNOG) dan bertujuan untuk menyelesaikan naskah akhir perjanjian pada tahun ini, sesuai dengan mandat Resolusi UNEA 5/14.

Negosiasi akan berlandaskan pada Chair’s Text, sebuah kerangka dasar yang diterbitkan pada Desember 2024. Dokumen ini merupakan hasil kompilasi masukan dari lebih dari 170 negara pada sesi INC-5.1 di Busan dan memuat area kunci serta opsi solusi untuk mengatasi polusi plastik.

Hingga saat ini, pertemuan INC-5.2 dihadiri oleh 3.694 peserta yang terdaftar, terdiri dari:

  • 1.694 delegasi dari 180 negara anggota.
  • 1.832 pemantau (observer) dari 583 organisasi non-pemerintah (NGO).
  • 40 pemantau dari 17 organisasi antar-pemerintah.
  • 90 pemantau dari 18 entitas PBB.
  • 315 jurnalis, termasuk dari korps media resmi UNOG.

Meski negosiasi resmi baru dimulai, dinamika di luar ruang perundingan sudah terasa. Ratusan peserta dari berbagai negara menggelar aksi damai di Place des Nations, Jenewa. Mereka menyerukan agar perjanjian ini tidak disandera oleh kepentingan industri. Para aktivis mendesak agar perjanjian tersebut tidak hanya berfokus pada penanganan sampah, tetapi juga pada akar krisis, yaitu produksi plastik berlebih.

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) turut hadir dalam proses INC-5.2 sebagai bagian dari jaringan masyarakat sipil. AZWI menegaskan pentingnya perjanjian yang berpihak pada perlindungan lingkungan, kesehatan manusia, dan keadilan bagi negara-negara berkembang yang selama ini terdampak praktik perdagangan sampah global.

Negosiasi ini diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan kuat yang mampu mengatasi krisis polusi plastik secara efektif dan adil bagi semua pihak.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi

9 Januari 2026 - 22:52 WIB

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

9 Januari 2026 - 10:11 WIB

Populer POLITIK