INAnews.co.id, Jakarta– Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada Kamis pagi ini. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.07 WIB di pasar spot exchange, rupiah menguat sebesar 12,5 poin atau 0,08% ke level Rp16.355,5 per dolar AS. Penguatan rupiah ini terjadi seiring dengan meningkatnya spekulasi pasar bahwa The Fed (Federal Reserve) bakal memangkas suku bunga pada rapat bulan depan.
Indeks dolar sendiri tercatat turun 0,1% ke level 98,13. Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (27/8), rupiah sempat terpukul melemah sebesar 69,5 poin (0,43%) ke level Rp16.368 per dolar AS.
Faktor utama penguatan rupiah adalah pelemahan dolar AS akibat sinyal dari Presiden Fed New York, John Williams, yang membuka peluang adanya pemangkasan suku bunga. Selain itu, situasi politik AS mempengaruhi dolar, dengan upaya Presiden AS Donald Trump yang semakin agresif untuk memengaruhi keputusan The Fed, termasuk rencana pemecatan Gubernur Fed Lisa Cook, yang memicu ketidakpastian di pasar.
Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat kurs transaksi harian rupiah terhadap dolar pada Kamis pagi pukul 08.00 WIB berada di kisaran jual Rp16.436,78 dan beli Rp16.273,23 per dolar AS.
Pasar juga memperhatikan data ekonomi AS, seperti indeks harga PCE dan laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis akhir pekan ini, yang berpotensi menjadi penentu arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Sementara itu, meski menguat pada pembukaan perdagangan pagi Kamis, beberapa analis memprediksi rupiah masih akan fluktuatif dan cenderung melemah dalam rentang Rp16.360 hingga Rp16.420 per dolar AS akibat sentimen eksternal dan dinamika pasar global.
Secara keseluruhan, nilai tukar rupiah menunjukkan pergerakan yang responsif terhadap faktor kebijakan moneter AS dan situasi geopolitik, dengan tren penguatan moderat pada pagi Kamis, 28 Agustus 2025.*






